ICRC Berkolaborasi untuk Membantu Korban Bencana, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relawan medis dari Indonesia Agus memeriksa kesehatan pengungsi Rohingya di tenda kesehatan Indonesia, Kamp Pengungsian Jamtoli, Cox Bazar, Bangladesh, 1 Oktober 2017. Sejumlah relawan berbagai organisasi yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) menyalurkan 1.000 paket bantuan kepada pengungsi Rohingya. ANTARA FOTO

    Relawan medis dari Indonesia Agus memeriksa kesehatan pengungsi Rohingya di tenda kesehatan Indonesia, Kamp Pengungsian Jamtoli, Cox Bazar, Bangladesh, 1 Oktober 2017. Sejumlah relawan berbagai organisasi yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) menyalurkan 1.000 paket bantuan kepada pengungsi Rohingya. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Meningkatnya jumlah orang yang terdampak konflik dan bencana serta sulitnya menembus akses bantuan, mendesak organisasi-organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional atau ICRC melakukan kolaborasi, termasuk dengan mitra-mitra lokal. Cara ini juga ampuh dalam mengatasi tantangan menembus akses lokasi-lokasi bencana, yang tidak pernah menjadi hal mudah. 

    "Akses kemanusiaan merupakan hal penting, baik pada masa bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia. Kami telah terlibat dalam negosiasi-negosiasi semacam itu selama puluhan tahun dan selalu ada ruang bagi kami untuk belajar dari pihak-pihak lain," kata Chrisoph Sutter, Ketua delegasi regional Komite Palang Merah Internasional atau ICRC, Kamis, 8 Maret 2018 di Jakarta. 
     
     
    Seorang petugas membagikan bantuan dari Indonesia untuk pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Thaingkali,Ukhiya, Bangladesh, 21 September 2017. Sebanyak 74 ton bantuan kemanusiaan dari Indonesia untuk pengungsi Rohingya telah sampai di Bangladesh. Foto: dok. KBRI Dhaka
     
    Saat ini, Myanmar, Filipina dan Bangladesh tengah mengalami krisis kemanusiaan. Hal serupa terjadi di wilayah Ghouta timur, Suriah, yang sekarang tidak ada lagi tempat untuk berlindung. 
     
    Krisis di Semenanjung Korea juga telah berdampak buruk pada sektor kemanusiaan di sana. Untuk itu, penting bagi para pemain kunci di wilayah-wilayah konflik dan bencana saling berbagi pengalaman serta membicarakan hal-hal yang menjadi tantangan bersama. 
     
     
    Terkait kolaborasi, Tomy Hendrajati, Ketua dewan eksekutif humanitarian forum Indonesia mengatakan lembaga-lembaga kemanusian dihimbau saling membantu, khususnya dalam upaya menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah bencana dan konflik.
     
    "Koordinasi juga diperlukan agar menghindari tumpang tindih dan kesalahpahaman dalam memberikan bantuan. Kolaborasi bisa menekan ego setiap organisasi dan mengisi kekosongan yang ada pada masyarakat," kata Tomy.
     
    Dia menambahkan, penting pula bagi organisasi-organisasi kemanusiaan menghormati budaya lokal agar cara mengirim dan memberikan bantuan tidak kontra produktif dengan budaya lokal. Oleh sebab itu, kerjasama dengan mitra-mitra lokal penting agar bantuan bisa disalurkan dengan baik ke wilayah bencana. 
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.