Azuma, Komandan Tempur Perempuan Pertama Kapal Perang Jepang

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ryoko Azuma, kedua dari kiri, merupakan komandan tempur perempuan pertama kapal perang Jepang, Maritime Self Defense Force First Escort Division (MSDF). Reuters.

    Ryoko Azuma, kedua dari kiri, merupakan komandan tempur perempuan pertama kapal perang Jepang, Maritime Self Defense Force First Escort Division (MSDF). Reuters.

    TEMPO.CO, Tokyo -- Angkatan Laut Jepang mengangkat seorang tentara perempuan untuk memimpin sebuah skuadron tempur, yang di dalamnya termasuk kapal pembawa helikopter Izumo, yang terkenal. Ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah perempuan yang mau bertugas di militer Jepang, yang didominasi lelaki.

    Ryoko Azuma akan mengomandoi empat kapal perang dengan jumlah pasukan mencapai 1000 orang, yang tiga puluh diantaranya merupakan perempuan. Skuadron ini merupakan bagian dari Maritime Self Defense Force First Escort Division (MSDF).

    Anggota Pasukan Bela Diri Jepang berinteraksi dengan Angkatan Darat AS usai menggelar latihan militer bersama yang diberi nama Orient Shield 17 di dekat Gunung Fuji di lapangan pelatihan Higashifuji di Gotemba, Jepang, 18 September 2017. REUTERS/Issei Kato

    Baca: Jepang Bakal Tempatkan Militer Dekat dengan Perbatasan Cina

    "Saya tidak berpikir saya perempuan. Saya akan mengkonsentrasikan energi saya untuk melaksanakan tugas sebagai komandan," kata Azuma, 44 tahun, dalam upacara pergantian pimpinan yang dihadiri 400 pelaut di kapal Izumo di galangan kapal di Yokohama dekat Tokyo.

    Selain Azuma, ada empat kapten dan wakil laksamana perempuan yang bertugas di MSDF.

    Tentara Jepang ikut ambil bagian dalam latihan militer bersama dengan tentara Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Jepang di Naval Base Guam, 13 Mei 2017. Latihan militer ini di gelar di tempat terpencil di kepulauan Pasifik Amerika Serikat. AP Photo

    Baca: Trump: Jepang Beli Peralatan Militer untuk Hadapi Korea Utara

    Saat Azuma bergabung di angkatan laut pada 1996, perempuan masih dilarang untuk bertugas di kapal perang. Aturan ini kemudian dianulir sepuluh tahun lalu. Sedangkan untuk kapal selam, aturan lama itu masih berlaku.

    Militer Jepang, seperti juga kondisi perekonomian negara itu, mulai beralih mencari kru ke kalangan perempuan karena terjadi kekurangan tenaga kerja usia produktif akibat menurunnya angka kelahiran. Jumlah warga berusia 18--26 tahun diprediksi menyusut menjadi tujuh juta orang pada 2065 dari 11 juta pada 2017.

    Berbeda dengan perusahaan komersil negara itu, militer Jepang tidak bisa merelokasi unit yang bertugas di luar negeri ataupun menyewa orang asing untuk mempekerjakannya sebagai tenaga perbantuan di jajaran staf.

    Pada 2030, militer Jepang berencana meningkatkan jumlah perempuan yang bertugas di angkatan udara, laut dan darat sebanyak 9 persen dari saat ini sekitar 6 persen atau 14 ribu orang. "Saya ingin mendedikasikan diri saya menjadi orang yang menginspirasi orang lain," kata Azuma.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.