Gerakan Antimuslim di Jerman dan Spanyol Meningkat

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Muslim beribadah di dalam masjid Sehitlik yang dikelola oleh Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB) di Berlin, Jerman, 3 Oktober 2017. Hari Masjid Terbuka telah berlangsung sejak 1997 pada peringatan Reunifikasi Jerman, dan diharapkan mampu mendatangi 100.000 orang ke masjid-masjid. REUTERS

    Umat Muslim beribadah di dalam masjid Sehitlik yang dikelola oleh Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB) di Berlin, Jerman, 3 Oktober 2017. Hari Masjid Terbuka telah berlangsung sejak 1997 pada peringatan Reunifikasi Jerman, dan diharapkan mampu mendatangi 100.000 orang ke masjid-masjid. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Serangan terhadap umat Islam dan masjid di Jerman, jelas pejabat, marak di mana-mana. Pada 2017, terdapat 950 serangan terhadap mereka.

    Menurut organisasi sipil, pada tahun yang sama, insiden Islamopohia di Spanyol mencapai 500 serangan termasuk pelecehan terhadap kaum wanita muslim dan anak-anak serta ke sejumlah masjid.

    Baca: Warga Jerman Enggan Berhubungan dengan Muslim

    Umat Muslim beribadah di dalam masjid Sehitlik yang dikelola oleh Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB) di Berlin, Jerman, 3 Oktober 2017. Mihrab masjid ini diukir dengan sangat indah, dimana di atasnya terdapat kaligrafi Alquran. Lampu hias menggantung di bawah kubah utama. Di tengah-tengah kubah bagian dalam terdapat kaligrafi surah al-Ikhlas yang terbuat dari emas. REUTERS

    Beberapa catatan Al Jazeera menunjukkan, pada Januari 2018, kepolisian Jerman mulai mendata kejahatan terhadap umat Islam yang dimasukkan ke dalam kategori khusus setelah umat muslim mendapatkan serangan serius oleh kelompok antimuslim.

    "Insiden ini dimotori oleh kelompk sayap kanan Jerman," kata Kementerian Dalam Negeri Jerman seperti dikutip Al Jazeera. Menurut Kementerian, sedikitnya 60 serangan terhadap sejumlah masjid dan institusi lain milik umat Islam tahun lalu.

    Jerman sebuah negara berpenduduk 81,8 juta jiwa. Negeri ini memiliki populasi umat Islam terbesar di Eropa Barat setelah Prancis. Umat Islam di Jerman, menurut laporan Al Jazeera, mencapai 4,7 juta, tiga juta di antaranya berasal dari Turki.

    "Mereka berasal dari imigran Turki yang datang bersama keluarganya paa 1960-an," Al Jazeera melaporkan.Deretan rumah-rumah kotak berwarna putih di desa Setenil de las Bodegas di Andalusia, Spanyol Selatan, 13 September 2016. Andalusia terkenal sebagai negara yang menjadi tempat awal mulanya peradaban Islam di Spanyol dimulai. REUTERS

    Sementara itu serangan terhadap umat Islam di Spanyol cenderung naik sebagaimana disebutkan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Citizens' Platform Against Islamophobia (PCI).

    Laporan tersebut mengatakan, tren kecurigaan terhadap umat Islam di Spanyol terus tumbuh antara lain melalui pandangan politik, kampanye jalanan, pemberitaan media dan kampanye melalui internet oleh kelompok sayap kanan.

    Beberapa insiden terhadap umat Islam Spanyol antara lain 546 Islamophobia, 386 media dan internet, sedangkan 48 persen serangan itu dalam bentuk verbal terhadap umat Islam di sana. "Dua puluh satu persen insiden itu menyasar wanita, delapan persen pria, dan empat persen ditujukan terhadap anak-anak, tujuh persen lainnya serangan ke masjid," tulis Al Jazeera.

    Baca: Gerakan Anti-Islam Muncul di Jerman

    Dokumen PCI pada 2017 itu menyebutkan, 51 persen insiden Islamophobia berlangsung di Catalonia, disusul d Andalusia sebesar 22 persen dan Valencia 20 persen. Negara-negara Eropa, termasuk Jerman dan Spanyol menuding umat Islam di sana terlibat dalam berbagai serangan teroris.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.