Tiga Pesan Vladimir Putin Pada Musuh-Musuh Rusia

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin tampak kebasahan selama upacara kehormatan untuk memperingati invasi Nazi Jerman pada 1941 di Benteng Kremlin di Moskow, Rusia, 22 Juni 2017. Sputnik/Alexey Druzhinin/Kremlin via REUTERS

    Presiden Rusia Vladimir Putin tampak kebasahan selama upacara kehormatan untuk memperingati invasi Nazi Jerman pada 1941 di Benteng Kremlin di Moskow, Rusia, 22 Juni 2017. Sputnik/Alexey Druzhinin/Kremlin via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pidato tahunan Presiden Rusia Vladimir Putin, pada Kamis, 1 Maret 2018, di hadapan anggota Dewan Federal Rusia, menjadi sorotan publik. Pasalnya, pidato ini disampaikan dua pekan menjelang diselenggarakannya pemilu Presiden Rusia dan  peringatan keras Putin kepada musuh-musuh Rusia. 

    Vladimir Putin. Youtube.com

    Baca: Putin: Rusia Kini Miliki Senjata Nuklir Paling Canggih di Dunia

    Ada tiga pesan bernada peringatan yang disampaikan Putin kepada musuhnya. Pertama, tidak ada rahasia yang tidak diketahui Rusia.

    Kedua, musuh-musuh Rusia diingatkan bahwa sistem senjata nuklir terbaru Rusia mampu menangkal, baik itu serangan dalam bentuk konvensional maupun ancaman cyber. Terakhir, posisi Rusia bagi musuh yang menyerang Rusia maupun sekutunya adalah hak Rusia menggunakan senjata nuklirnya dan secepat mungkin menyerang balik musuh.

    Baca: Putin: Amerika Serikat Mengepung Rusia

    Dalam pesannya itu, Putin dengan tegas mengatakan setiap serangan nuklir terhadap Rusia atau sekutu-sekutunya, baik itu dalam skala kecil, menengah atau skala apapun, akan dianggap sebagai serangan terhadap Rusia. Putin tidak menyebut spesifik siapa sekutu-sekutu yang dimaksudnya.

    Putin pada 18 Maret 2018 akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia. Peluangnya saat ini untuk terpilih kembali sangat besar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.