Kim Jong Nam Tahu Hidupnya dalam Bahaya 6 Bulan Sebelum Tewas

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kim Jong-nam, dikawal petugas imigrasi turun dari bis menuju pesawat di bandara Narita, Tokyo, Jepang (4/5/2001). Jong-nam dideportasi ke Cina bersama dua wanita dan seorang anak laki-laki setelah tertangkap menggunakan paspor palsu. TOSHIFUMI KITAMURA/AFP/Getty Images)

    Kim Jong-nam, dikawal petugas imigrasi turun dari bis menuju pesawat di bandara Narita, Tokyo, Jepang (4/5/2001). Jong-nam dideportasi ke Cina bersama dua wanita dan seorang anak laki-laki setelah tertangkap menggunakan paspor palsu. TOSHIFUMI KITAMURA/AFP/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kim Jong Nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengungkapkan ke temannya yang tinggal di Malaysia bahwa hidupnya dalam bahaya. Hal itu ia ungkapkan 6 bulan sebelum peristiwa tragis yang merengut nyawanya di bandara internasional Kuala Lumpur 13 Februari 2017. 

    Tomie Yoshio mengungkapkan kekhawatiran Kim Jong Nam atas hidupnya saat diperiksa polisi Malaysia, Wan Azirul Nizam Che Wan Aziz, seperti dikutip Channel News Asia, 27 Februari 2018.

    Baca: Kim Jong Nam Bertemu Intelijen AS Sebelum Tewas

    Kepada Yoshio, Kim Jong Nam mengungkapkan tentang hidupnya dalam bahaya dan kemudian meminta bantuan disediakan supir khusus selama ia berada di Malaysia.

    "Enam bulan sebelum kejadian tanggal 13 Februari, Kim Jong Nam mengatakan 'Saya khawatir mengenai nyawa saya, dan saya butuh supir,'" ujar Wan Azirul mengutip pernyataan Yoshio saat memberikan keterangan kepada polisi.

    Kim Jong Nam tiba di Malaysia pada 6 Februari 2017. Seorang supir dikirim Yoshio ke bandara internasional Kuala Lumpur untuk menjemput Kim Jong Nam.

    Baca: Pengacara: Kedutaan Korea Utara Terlibat Pembunuhan Kim Jong Nam

    Supir ini kemudian membawanya ke berbagai tempat yang dituju Kim Jong Nam. Hingga kemudian Kim Jong Nam tewas saat akan terbang menuju Macau, tempat ia tinggal bersama anak dan istrinya, pada 13 Februari 2017.

    Siti Aisyah warga Indonesia dan Doan Thi Huong warga Vietnam menjadi terdakwa kasus kematian Kim Jong Nam. Keduanya didakwa membunuh Kim Jong Nam dengan mengoles cairan beracun, VX, ke wajah dan bagian tubuh lainnya saat bermain prank untuk televisi Korea.

    Pengacara Siti Aisyah, Gooi Soon Seng menegaskan kliennya tidak terbukti terlibat pembunuhan Kim Jong Nam. Menurutnya kemaian Kim Jong Nam bermotifkan politik yang para tersangkanya merupakan diplomat yang bertugas di Kedutaan Korea Utara di Kuala Lumpur.

    Baca: Fakta Baru dari Pengadilan Siti Aisyah Soal Kim Jong Nam

    Kliennya, ujar Gooi, menjadi kambing hitam dalam kasus ini.

    Wan Azirul sepakat dengan Gooi bahwa Siti Aisyah dan Dhoan Thi Huong tidak memiliki motif untuk membunuh Kim Jong Nam.

    Namun polisi Malaysia tersebut tidak memberikan tanggapan kenapa Hong Song Hac, warga Korea Utara yang pernah bekerja di Kedutaan Korea Utara di Jakarta tidak diperiksa. Padahal dia yang membayar Siti Aisyah berakting di acara prank itu. Bahkan wajahnya terekam dalam CCTV bandara saat meninggalkan Malaysia beberapa saat setelah Kim Jong Nam dibunuh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.