Kim Jong Un Kirim Jenderal Ini ke Korea Selatan

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kim Jong Un Kejutkan Pemandu Sorak Korea Utara di Olimpiade

    Kim Jong Un Kejutkan Pemandu Sorak Korea Utara di Olimpiade

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un,  memastikan akan mengirim delegasi tingkat tinggi ke Korea Selatan untuk menghadiri upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang pada Ahad, 25 Februari 2018 ini.

    "Kim Yong Chol, Wakil Ketua Komite Sentral Partai Pekerja, akan memimpin delegasi yang dijadwalkan tiba sebelum upacara dimulai," demikian pernyataan Kementerian Unifikasi Korea Selatan pada Kamis, 22 Februari 2018.

    Baca: Dinasti Korea Utara, Saudara Perempuan Kim Jong Un Hamil

     

    Jenderal Kim Yong Chol akan datang bersama dengan Ri Son Gwon, yang menjabat ketua Komite untuk Reunifikasi Damai Korea Utara dan enam staf pendukung.

    Baca: Kim Jong Un Undang Presiden Korea Selatan Ke Korea Utara

     
     

    Ri termasuk di antara delegasi yang dikirim ke Korea Selatan pada Januari untuk melakukan pembicaraan yang berujung partisipasi Korea Utara di Olimpiade Musim Dingin.

    Sejumlah balon bergambarkan patung pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump diarak selama parade Karnaval yang ke-134 di Nice, Perancis, 20 Februari 2018. REUTERS

    "Kami mengharapkan partisipasi delegasi tingkat tinggi dalam upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang untuk membantu memajukan proses penyelesaian perdamaian di Semenanjung Korea termasuk peningkatan hubungan antar Korea dan denuklirisasi," begitu bunyi pernyataan itu seperti yang dilansir CNN pada 22 Februari 2018. Berita ini juga dilansir Reuters dan Korea Herald.

    Hal-hal praktis, termasuk rencana perjalanan delegasi, akan didiskusikan melalui pertukaran dokumen di Panmunjeom, yang dikenal sebagai "desa gencatan senjata," di Wilayah Keamanan Bersama di perbatasan Korea Utara dan Selatan.

    Kehadiran Kim Yong Chol diduga untuk mendemonstrasikan bagaimana Pyongyang menguji batas-batas berbagai sanksi berbeda yang dikenakan kepadanya atas program senjata nuklir dan program rudal balistiknya yang dilarang PBB.

    Jenderal  itu masuk daftar hitam di bawah sanksi sepihak Seoul terhadap Korea Utara, yang berarti dia terkena pembekuan aset - walaupun dia tidak disebutkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.

    Kim Yong diyakini pernah memimpin Biro Pengintaian Korea Utara, yang menangani operasi intelijen Pyongyang. Kim Yong diduga telah memerintahkan serangan torpedo mematikan terhadap korvet Cheonan di Selatan pada tahun 2010 yang menyebabkan 46 pelaut Korea Selatan tewas.

    Seoul menyalahkan Korea Utara atas serangan itu namun Pyongyang menolak keterlibatannya.

    Kementerian Pertahanan Seoul juga menghubungkannya dengan penembakan Pulau Yeonpyeong pada tahun yang sama, yang menewaskan empat orang.

    Sementara itu Ivanka Trump, putri Presiden Amerika Serikat, Donald Trum,  juga akan menghadiri upacara itu pada akhir pekan ini.

    Gaya Ivanka Trump saat berkunjung ke benteng Golconda di Hyderabad, India, 29 November 2017. Dalam kesempatan tersebut, Ivanka mengenakan baju rancangan desainer Indonesia, Biyan Wanaatmadja. AP Photo/Manish Swarup

    Gedung Putih mengatakan Donald Trump telah meminta anak perempuan tertuanya, yang juga salah satu penasihat utamanya, untuk pergi ke Pyeongchang memimpin sebuah "delegasi tingkat tinggi."

    Wanita berusia 36 tahun itu dijadwalkan untuk makan malam dengan Presiden Korea Selatan dan mungkin akan bertemu dengan delegasi Pyongyang selama di sana.

    Namun seorang pejabat administrasi senior AS mengesampingkan kemungkinan pertemuan antara Ivanka dan pejabat dari Korea Utara.

    Pyongyang telah menggunakan Olimpiade untuk mencoba memperbaiki citranya di masyarakat internasional dan mendorong untuk melakukan pembicaraan dengan Seoul. Ini bisa mengurangi kemungkinan serangan militer AS, yang disebut-sebut sebagai pilihan oleh pejabat administrasi Trump. Kim Jong Un juga menolak latihan perang Korea Selatan dan Amerika karena khawatir negaranya akan menjadi sasaran invasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.