Arab Saudi Sebut Eropa Bantu Iran Danai Terorisme, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, saat menghadiri pertemuan dengan Liga Arab di Kairo, Mesir, 19  November 2017. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, saat menghadiri pertemuan dengan Liga Arab di Kairo, Mesir, 19 November 2017. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    TEMPO.CO, Jakarta - Arab Saudi menuduh perusahaan-perusahaan Eropa melakukan bisnis di Iran untuk memperkaya Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) yang kegiatan militernya telah mengakibatkan kerusakan besar di Timur Tengah.

    "Kami percaya bahwa sebagian besar ekonomi Iran dikendalikan oleh Garda Revolusi. Dan kami percaya bahwa setiap hubungan dengan perusahaan tersebut hanya berfungsi untuk memperkaya IRGC dan membuat mereka semakin leluasa menciptakan lebih banyak kerusakan di wilayah ini dan dunia," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir.

    Baca: Susul Israel, Giliran Arab Saudi Tuding Iran Biang Rusuh Timteng

    Klaim tersebut muncul saat Iran menandatangani kesepakatan senilai miliaran dolar dengan perusahaan-perusahaan Eropa setelah sanksi internasional dicabut dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.

    Pelepasan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada tahun 2015, yang mencabut sanksi internasional terhadap Iran dengan imbalan pembatasan pengembangan nuklirnya, menyebabkan gelombang investasi baru dan bisnis masuk ke negara tersebut dari Eropa, yang dipimpin oleh Jerman, Prancis dan perusahaan multinasional Eropa.

    Seluruh jajaran raksasa Eropa, termasuk Airbus, Siemens, Peugeot dan Total telah menandatangani kontrak besar dengan perusahaan negara Iran dan swasta.

    Baca: Apa yang melatarbelakangi perselisihan Arab Saudi dan Iran?

    Garda Revolusi dilaporkan merupakan badan keamanan Iran yang paling kuat, yang memegang kendali atas sebagian besar ekonomi negara tersebut dan memiliki pengaruh besar dalam sistem politiknya. Cabang militer tersebut telah dituduh mendukung kelompok-kelompok milisi seperti Hizbullah di Timur Tengah.

    Al-Jubeir juga mengatakan kesepakatan 2015 gagal menyelesaikan masalah perilaku radikal Iran. "Mereka juga tidak menangani masalah dukungan Iran untuk terorisme," katanya, seperti yang dilansir CNBC pada 19 Februari 2018.

    Dia beralasan bahwa hal itu berdasarkan pada beberapa hal, termasuk kurang terperincinya klausul perjanjian nuklir serta tidak adanya ketelitian pemeriksaan PBB.

    Baca: Arab Saudi Berharap Tak Perang dengan Iran

    Teheran berulang kali menolak tuduhan mensponsori terorisme dan mematuhi semua parameter kesepakatan nuklir, sebuah klaim yang didukung oleh badan inspeksi PBB.

    Korps Garda Revolusioner Islam Iran didirikan setelah Revolusi Islam 1979 dan dituding mendukung kegiatan terorisme oleh kelompok-kelompok seperti Hizbullah di seluruh wilayah, dari Irak dan Lebanon sampai Suriah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.