Agus: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi Tersibuk

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Agus Rahardjo (kiri) bersama  Presiden Komite Nasional Pemberantasan Korupsi

    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Agus Rahardjo (kiri) bersama Presiden Komite Nasional Pemberantasan Korupsi "Nazaha" Arab Saudi, Dr. Khaled Abdulmohsen Al-Muhaesin (kanan) dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel (tengah) di Kantor Nazaha, Riyadh, Arab Saudi, 13 Desember 2016. Foto: KBRI Arab Saudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, mengklaim kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi sebagai kantor perwakilan Indonesia di luar negeri tersibuk.

    "Kami bekerja boleh dikatakan '26 jam' per hari. KBRI menerima berbagai macam pengaduan, sampai tenaga kerja yang ditinggal suaminya nikah lagi, juga mengadu pada kami," kata Agus kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 13 Februari 2018.

    Baca: Dubes Agus Maftuh Minta WNI Tak Terjebak Ideologi Kekerasan

    Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mendengarkan Tohirin bin Mustofa yang mengadukan nasib istrinya Nurnengsih binti Tasdik, yang saat itu masih dipenjara. Kedua suami-istri itu kini telah berhasil dibebaskan dari hukuman mati, 25 November 2016 . (Foto: KBRI Riyadh)

    Agus menceritakan pihaknya mengurusi banyak hal, mulai dari upaya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Arab Saudi di semua sektor, masalah tenaga kerja Indonesia di sana, kuota haji hingga bekerja seperti penagih utang. Yakni memburu para majikan yang lalai menjalankan kewajibannya terhadap para tenaga kerja Indonesia.

    "Kami bahkan sering dikira agen tenaga kerja. Meskipun banyak yang diurus, tetapi kami berkomitmen melayani saudara-saudara kita di Arab Saudi dan berupaya menghadirkan negara di tengah-tengah mereka," kata Agus.Sebanyak 450 WNI dan TKI undocumented yang dipulangkan pemerintah Indonesia dari Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 11 November 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Baca: Diplomasi Persahabatan Duta Besar RI untuk Arab Saudi

    Dia menjelaskan, Kedutaan bekerja dengan semboyan 'satu tim satu mimpi'. Agus dan para stafnya pun berupaya optimal memberikan perlindungan terhadap warga negara Indonesia di sana, khususnya para tenaga kerja, yang lebih suka disebutnya sebagai saudara karena alasan demi mengangkat harkat dan martabat mereka.

    Tugas paling berat disebut Agus, saat harus membebaskan para tenaga kerja Indonesia dari ancaman hukuman mati. Itu artinya, KBRI harus melakukan mediasi dan negosiasi dengan keluarga korban dan pemerintah Arab Saudi.

    Tak hanya itu, KBRI pun harus menghadapi para makelar kasus, yang acap kali memanfaatkan uang diyat. "Ada yang pernah meminta uang diyat sampai Rp 120 miliar dan menjadi tugasnya menekan serendah mungkin uang diyat tersebut," ungkap Agus


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.