Lindungi Siswa dari Penembakan Massal di Amerika, Pelatih Tewas

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aaron Feis, asisten pelatih sepak bola di Marjory Stonemason Douglas High School di Parkland, Florida, tewas saat menjadi tameng bagi sejumlah murid saat pelaku melepaskan tembakan. Nikolas Cruz diduga menjadi pelaku dalam peristiwa ini. Facebook via AP

    Aaron Feis, asisten pelatih sepak bola di Marjory Stonemason Douglas High School di Parkland, Florida, tewas saat menjadi tameng bagi sejumlah murid saat pelaku melepaskan tembakan. Nikolas Cruz diduga menjadi pelaku dalam peristiwa ini. Facebook via AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang penjaga keamanan, yang juga asisten pelatih sepak bola, menjadi seorang pahlawan setelah rela mengorbankan dirinya untuk melindungi pelajar dari penembakan massal di sebuah sekolah di Florida Selatan, Amerika Serikat.

    Aaron Feis meninggal dalam peristiwa penembakan di sekolah menengah umum Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, AS, oleh Nikolas Cruz, 19 tahun. Cruz pernah bersekolah di sana dan dikeluarkan karena masalah disiplin.

    Warga berkumpul untuk menyalakan lilin untuk korban penembakan di sekolah menengah Marjory Stoneman Douglas di Florida, 15 Februari 2018. Nikolas Cruz, seorang mantan siswa, melakukan penembakan yang menewaskan 17 orang. AP

    Baca: Penembakan Massal di Amerika, 17 Siswa Sekolah Tewas

     

    "Dia adalah Asisten Pelatih Sepakbola dan satpam. Dia tanpa pamrih melindungi siswa dari penembak saat dia ditembak. Dia meninggal sebagai pahlawan dan dia akan selamanya berada di dalam hati dan kenangan kita," demikian pernyataan tim sepak bola Marjory Stoneman Douglas High School seperti dilansir CNN dan LA Times, Jumat, 16 Februari 2018.

    Baca: 17 Orang Tewas, Eks Siswa Penembak Ikut Program Militer Amerika

    Menurut pelatih kepala sepak bola sekolah itu, Willis May, Feis membahayakan nyawanya saat dia melindungi seorang siswa wanita dari si penembak dan mendorongnya keluar dari sasaran.

    May mengungkapkan insiden kematian Feis itu bermula ketika dia, yang juga merupakan salah satu staf keamanan, menanggapi panggilan awal radio walkie talkie sekolah. Ketika seseorang bertanya di radio apakah suara yang meledak di lorong adalah petasan, Feis mengatakan itu bukan suara petasan tetapi tembakan. Dan, itulah suara terakhir Feis sebelum tewas demi siswi di sekolahnya.

    "Itu yang terakhir saya dengar tentang dia," kata May.

    Kematiannya membuat murid-murid, teman dan keluarga bersedih.

    "Hati saya remuk," sepupunya, Lori Carter. "Dia bukan hanya sepupu saya. Dia adalah sahabat terbaik saya dan penasihat saya. Dia selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memberi saya saran terbaik. "

    Menurut Carter, Feis meninggal setelah mencoba merebut senjata dari Nikolas Cruz. Feis meningalkan seorang istri dan seorang putri yang sangat dicintainya.

    Feis lulus dari sekolah ini pada 1999 dan menjadi staf di tim sepak bola sekolah itu 3 tahun kemudian.

    Feis kembali ke Douglas pada tahun 2002 dan menjadi pelatih kepala tim junior. Setelah itu, dia melatih lanjutan dan mengkoordinasikan perekrutan para pemain untuk perguruan tinggi. 

    Siswa saling menghibur saat acara berkabung untuk korban penembakan di sekolah Marjory Stoneman Douglas, di Florida, 15 Februari 2018. Nikolas Cruz, menembakkan senapan semi otomatis AR-15 ke arah pelajar dan guru. AP

    Feis, yang menghabiskan seluruh karirnya di sekolah itu setelah lulus dari Stoneman Douglas, berada di antara banyak pahlawan yang ceritanya mulai muncul setelah tragedi Rabu.

    Pahlawan lainnya adalah seorang guru, Melissa Falkowski, yang menyembunyikan 19 siswa di lemari ketika Cruz mulai melepaskan tembakan. "Ini mimpi buruk terburuk yang bisa kamu alami," kata Falkowski kepada CNN.

    Sementara itu, saat alarm kebakaran berbunyi, seorang petugas kebersihan mengalihkan siswa senior dan murid lainnya dari arah sumber tembakan.

    Penembakan sekolah menengah Marjory Stoneman Douglas High School, Florida, yang dilakukan Cruz, menewaskan sekitar 17 orang pada Rabu, 14 Februari 2018 waktu setempat.

    Menurut seorang siswa senior, Chad Williams, 18 tahun, Cruz merupakan rekan sekelasnya yang kerap bermasalah. Cruz kerap menyalakan alarm kebakaran di sekolah dari hari ke hari dan akhirnya dikeluarkan saat dia kelas 8.

    Menurut Williams, Cruz juga diketahui tergila-gila dengan senjata dan memiliki perilaku aneh menyendiri.

    Saat bersekolah, Cruz merupakan mengikuti program Junior Reserve Officers Training Corp, yang digelar militer Amerika.

    Dia ditangkap oleh polisi beberapa mil dari sekolah sekitar satu jam 20 menit setelah perisitiwa penembakan terjadi.

    Ketika korban selamat dari pembantaian keluar dari persembunyian, tersebar kabar bagaimana Feis telah mencoba menyelamatkan siswa, dan ungkapan duka cita untuknya mengalir. Amerika berduka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.