Remaja Lebanon Dihukum Hafal Al-Quran tentang Maryam, kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhannad Khaled Omar, dibantu asistennya saat membuat lukisan bergambarkan Presiden AS Donald Trump dikepala pelanggannya di sebuah barber shop di Burj al-Barajneh, Lebanon. 14 Juli  2017. AP

    Muhannad Khaled Omar, dibantu asistennya saat membuat lukisan bergambarkan Presiden AS Donald Trump dikepala pelanggannya di sebuah barber shop di Burj al-Barajneh, Lebanon. 14 Juli 2017. AP

    TEMPO.CO, Lebanon - Tiga remaja Muslim Lebanon dijatuhi dengan hukuman yang tidak biasa setelah terbukti bersalah melakukan penghinaan terhadap ajaran agama kristen.  Hakim memerintahkan ketiganya menghafal ayat kitab suci Al-Quran yang mengisahkan tentang Maryam atau Perawan Maria, yang merupakan ibunda Yesus Kristus.

    Baca: Hariri Pulang, Rayakan Hari Kemerdekaan Lebanon

     
     

    Hakim Pengadilan Lebanon yang beragama Kristen, Joceline Matta, menemukan ketiga remaja lelaki Muslim itu bersalah atas dakwaan penghinaan terhadap agama karena telah menghina Bunda Maria. Ketiganya didakwa melakukan penghinaan secara verbal atau penghinaan fisik terhadap ritus dan objek keagamaan sehingga dapat dihukum hingga tiga tahun penjara.

    Baca: Mata-mata Israel Asal Lebanon Ini Direkrut Perwira Mossad

    Namun, saat membacakan putusannya di pengadilan di kota Tripoli Utara pekan lalu, hakim itu mengatakan dia ingin ketiga remaja ini belajar tentang penghormatan Islam terhadap ibunda Yesus Kristus.

    "Hukuman ini berupa kegiatan sekolah bukan sebuah pejara," kata Matta dalam putusannya, seperti yang dilansir Independent pada Selasa, 13 Februari 2018.

    Ajaran Islam juga menganggap Yesus sebagai nabi utama Allah. Maryam atau Maria dihormati dalam beberapa teks Islam, termasuk surah Al-Imran, yang berbunyi "Dan [sebutkan] ketika para malaikat berkata, 'Ya, Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu dan menyucikanmu dan memilihmu di atas para wanita di dunia ini."

    Menurut Hakim Matta bahwa kelakukan para remaja itu menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap agama mereka sendiri.

    Ketiganya harus belajar ayat-ayat dari surah Al-Imran agar bisa dibebaskan.

    Keputusan ini dipuji oleh beberapa tokoh masyarakat terkemuka Lebanon dan politisi dan menjadi viral di media sosial.

    Perdana Menteri Saad Hariri mengatakan hukuman itu adalah "lambang keadilan" dan mendorong koeksistensi antara Muslim dan Kristen bersama melalui "pengajaran gagasan umum".

    Ada seruan pada media sosial untuk keputusan Hakim Matta untuk digunakan sebagai contoh dalam kasus lain.

    Lebanon pernah tercabik oleh kekerasan sektarian antara berbagai faksi Muslim, Kristen dan Druze dalam perang saudara 1975-1990, yang menewaskan sekitar 120.000 orang.

    Di bawah konstitusi, yang menekankan keharmonisan agama, Presiden harus seorang Kristen Maronite, Perdana Menteri seorang Muslim Sunni, dan ketua parlemen Lebanon seorang Muslim Syiah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.