Amerika Vs Rusia: Drone MQ-9 Reaper Hancurkan Tank T-22 di Suriah

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah tank T-72 mengeluarkan tembakan  kearah target yang dikendalika angggota dari Angola dalam acara Kompetisi Tank Biathlon bagian dari International Army Games 2017 di Alabino, Rusia, 29 Juli 2017. Tank T-72 diproduksi pada tahun 1974, hingga kini Uralvagonzavod secara total telah mengeluarkan 20.554 tank jenis ini. REUTERS/Maxim Shemetov

    Sebuah tank T-72 mengeluarkan tembakan kearah target yang dikendalika angggota dari Angola dalam acara Kompetisi Tank Biathlon bagian dari International Army Games 2017 di Alabino, Rusia, 29 Juli 2017. Tank T-72 diproduksi pada tahun 1974, hingga kini Uralvagonzavod secara total telah mengeluarkan 20.554 tank jenis ini. REUTERS/Maxim Shemetov

    TEMPO.CO, Suriah -- Pesawat nirawak pengebom Amerika Serikat, MQ-9 Reaper, menembak dan menghancurkan sebuah tank Rusia, T-22, di Suriah pada pekan lalu.

    Serangan drone ini terjadi beberapa hari setelah sebuah pangkalan pasukan milisi Suriah dukungan Amerika Serikat, Syrian Democratic Forces (SDF), yang didominasi pasukan Kurdi, hendak diserang sekitar 500 pasukan milisi pro pemerintah Suriah di daerah Deir Ezzor, yang menewaskan sekitar seratus pasukan penyerang.

    Drone MQ-9 Reaper (Predator B) dilengkapi dengan mesin trubopop yang dirancang untuk berbagai misi. Drone ini mampu menjelajah ketinggian hingga 15.250 meter dengan lama terbang 27 jam. Drone ini mampu mengangkut peralatan tempur seberat 1,746 kg, antara lain Hellfire dan bom unit-12 Paveway II dalam sekali terbang. ga-asi.com

    Baca: Amerika Serikat Dukung Israel Menyerang Suriah

     

    "Letnan Jenderal Jeffrey Harrigian, yang merupakan jenderal senior di angkatan udara AS di Timur Tengah, menolak berspekulasi mengenai siapa yang mengendarai tank Rusia itu," begitu dilansir StraitsTimes, Rabu, 14 Februari 2018.

    Baca: Amerika Vs Rusia: Sekitar 100 Anggota Pasukan Pro Suriah Tewas

     

    Namun, seorang pejabat AS mengatakan dua orang pasukan pendukung pemerintah Suriah terbunuh oleh serangan drone ini. Militer AS mengatakan tank itu diserang karena memasuki wilayah tembak dari pasukan milisi AS, yang didukung pasukan artileri.

    Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, menganggap peristiwa ini sebagai sepele. "Itu mungkin hanya dua orang lokal sedang melakukan sesuatu. Saya tidak ingin melihat ini sebagai serangan besar."

    Rusia merontokan drone-drone yang menyerang pangkalan militernya di Suriah dengan Pantsir-S1, pada awal Januari 2018. Pantsir-S1 adalah sistem pertahanan udara jarak pendek yang biasanya disiagakan di pangkalan militer atau aset-aset penting lainnya, baik militer maupun sipil. sputniknews.com

    Insiden ini mewarnai meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Rusia di Suriah. Masing-masing memiliki pasukan milisi yang mereka dukung dan persenjatai. Rusia mendukung pasukan pemerintah Suriah. Sedangkan AS mendukung pasukan SDF, yang berupaya menjatuhkan rezim pemerintah Bashar Al Assad.

    Dalam pertempuran beberapa hari sebelumnya, sekitar seratus pasukan pro pemerintah Suriah tewas dalam pertempuran di dekat sungai Eufrat. Sekitar 500 pasukan milisi pro pemerintah berusaha menyerang markas pasukan SDF di dekat area ini.

    Saat itu, pasukan khusus AS, yang bertugas di lokasi, menyerang pasukan pro pemerintah Suriah menggunakan berbagai kekuatan udara canggih seperti pesawat tempur F-15E, drone MQ-9, pasukan pengebom B-52, pesawat AC-130 dan helikopter penyerang Apache AH-64.

    Serangan pasukan khusus Amerika ini berlangsung selama sekitar tiga jam. "Begitu pasukan penyerang bergerak ke barat, kami berhenti menyerang," kata Harrigian. Dalam peristiwa in, sekitar selusin pasukan tentara bayaran Rusia tewas.
    Presiden Assad, yang didukung Rusia dan milisi dukungan Iran, mengatakan akan mengambil alih semua wilayah negaranya, yang saat ini masih dikuasai SDF. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.