Sabtu, 26 Mei 2018

Pemerintah Indonesia Ingin Tingkatkan Ekspor ke Afrika

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memberikan sambutan dalam acara Ambassadors and CEO cocktail function di kantin diplomasi Kemlu, 13 Februari 2018. Foto: Suci Sekar

    Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memberikan sambutan dalam acara Ambassadors and CEO cocktail function di kantin diplomasi Kemlu, 13 Februari 2018. Foto: Suci Sekar

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pemerintah sangat ingin meningkatkan ekspor terutama ke Afrika dan selatan Karibia.

    "Kami ingin sekali pengusaha asal Indonesia bisa berdagang sampai ke sana. Untuk itu, kami meningkatkan kerja sama supaya ekspor pun ikut naik," kata Retno dalam acara bertajuk Ambassadors and CEO Cocktail Function, yang diadakan Kementerian Luar Negeri, Selasa, 13 Februari 2018.

    Baca: Afrika Selatan Pintu Masuk Produk Indonesia ke Lima Negara

    Acara ini mempertemukan para duta besar Indonesia dengan CEO berbagai jenis usaha. Upaya ini terkait dengan program Presiden Joko Widodo yang memprioritaskan diplomasi ekonomi untuk mempromosikan pasar-pasar nontradisional Indonesia. 

    Saat ini, menurut Retno, para kepala perwakilan Indonesia di berbagai belahan dunia sudah diberikan target-target yang harus dipenuhi. Target-target ini telah membuat kinerja para kepala perwakilan menjadi jauh lebih jelas dan melalui acara ini, para duta besar dan CEO, yang berjumpa bisa saling mengambil langkah nyata. 

    "Tidak boleh ada jarak antara duta besar dan CEO," kata Retno. 

    Baca: Kurangi Sisa Makanan, Indonesia Perlu Contoh Afrika

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani mengatakan ujung tombak diplomasi ekonomi Indonesia ada di tangan para duta besar dan CEO.

    Presiden Jokowi disebut Rosan telah memberikan peringatan, yakni ekspor Indonesia dalam empat tahun terakhir telah mengalami penurunan ke semua negara di dunia. Ekspor Indonesia bahkan tertinggal dari Vietnam yang dulu belajar dari Indonesia. 

    Sebagai contoh, ekspor kelapa sawit Indonesia yang semula sekitar US$ 360 juta, sekarang anjlok menjadi sekitar US$ 200 juta karena pembeli beralih ke Malaysia. 

    "Penyebab penurunan ini adalah turunnya daya saing dan produk-produk kita kurang kompetitif," kata Rosan.

    Baca: Jokowi: Indonesia Dukung Peningkatan Kerja Sama G-20 dengan Afrika

    Dengan begitu, pemerintah Indonesia dan seluruh pihak terkait perlu berperan aktif, mencari tahu apa saja yang harus diperbaiki, mempermudah regulasi, kebijakan, dan apa pun yang menjadi kebutuhan. 

    Lebih lanjut, Rosan menilai program-program dan kebijakan pemerintah Indonesia kurang promosi dan harus disampaikan para duta besar ke negara mereka bertugas. Misalnya, saat ini ada 34 sektor usaha yang bisa dimiliki pihak asing. Peringkat Indonesia pun sekarang sudah meningkat menjadi investment grade dan hal ini penting dipromosikan para duta besar. 

    Rosan meyakinkan bahwa pihaknya mendukung penuh investasi bidang perdagangan dengan negara-negara di dunia, agar dinaikkan. Dan naiknya investasi, kuncinya ada kenaikan ekspor. 

    SUCI SEKARWATI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Merapi Kembali Menunjukkan Tanda-Tanda Letusan Magmatis Pada 2018

    Merapi merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia, ini rekaman sejarah erupsi Merapi menurut Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.