Duterte: Saya Jadi Diktator demi Kesejahteraan Rakyat Filipina

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rodrigo Duterte menangis saat ia menghibur anggota keluarga korban kebakaran pusat perbelanjaan di kota Davao di Filipina, 24 Desember 2017. REUTERS

    Presiden Rodrigo Duterte menangis saat ia menghibur anggota keluarga korban kebakaran pusat perbelanjaan di kota Davao di Filipina, 24 Desember 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan jika bukan karena gaya diktatornya, maka perekonomian serta kesejahteraan negara akan mandek dan tidak pernah membaik.

    Duterte berpidato di depan para pemberontak Komunis pada Rabu, 7 Februari 2018 di Visayan. Dia berkeras gaya pemerintahannya diperlukan untuk menopang kemajuan dan pertumbuhan ekonomi negara ini.

    Ekspresi Presiden Filipina, Rodrigo Duterte saat mendeklarasikan pembebasan kota Marawi, Filipina, 17 Oktober 2017. Militer Filipina berhasil membebaskan Marawi setelah hampir 5 bulan dikuasai kelompok militan Maute. AP Photo/Bullit Marquez

     

    Baca: ICC Memeriksa Pengaduan Atas Duterte Soal Extrajudicial Killing

     
     

    "Jika Anda mengatakan diktator, saya benar-benar seorang diktator, jika saya tidak bertindak seperti diktator, tidak akan terjadi apa-apa di negara ini," kata Presiden pada pertemuan, seperti dikutip oleh The SunStar Manila pada Kamis, 8 Februari 2018. Berita ini juga dilansir Russia Today.

    Baca: Wow, Duterte Hancurkan Puluhan Mobil Mewah Senilai Rp 16,2 Miliar

     
     

    Kritikus telah lama menuduh Duterte memiliki kecenderungan otoriter. Ini terlihat dari retorika abrasif dan agresifnya saat berhadapan dengan lawan. Ini ditambah dengan sikap kerasnya terhadap narkoba, yang telah menjadi ciri masa kepresidenannya.

    Duterte juga mendapat kecaman keras karena mengumumkan darurat militer di pulau selatan Mindanao tahun lalu saat terjadi pemberontakan milisi teroris di Kota Marawi.

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang sebuah senjata saat mengunjungi tentara yang memerangi kelompok ekstremis Maute di Marawi, Filipina, 24 Agustus 2017. Presidential Palace/Handout via REUTERS

    Komentar Duterte muncul di tengah rencananya untuk merevisi Konstitusi 1987 untuk mengubah bentuk pemerintahan negara dari tipe kesatuan ke bentuk federal.

    Kelompok anti-Duterte merasa khawatir negara federal yang diusulkan Duterte merupakan jalan untuk menjadi seorang diktator.

    Namun Duterte berulang kali membantah bahwa dia mengincar posisi sebagai diktator di negara federal nantinya. Dia mengaku bersedia  mengundurkan diri jika federalisme terus berlanjut. Duterte mengatakan bahwa dia hanya memenuhi janjinya untuk memperbaiki kehidupan orang-orang Filipina.

    Duterte kini sedang diselidiki oleh Pengadilan Kejahatan Internasional atau ICC. Lembaga ini sedang mempelajari tudingan terhadap Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang diduga melakukan kejahatan kemanusiaan lewat cara extrajudicial killing terhadap para tersangka pengedar narkoba.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.