Amerika Tuding Rusia Terlibat Serangan Kimia Suriah

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis Suriah melakukan latihan bagaimana memberikan pertolongan pada korban serangan kimia  di Gaziantep, Turki, 20 Juli 2017.  Sekitar 100 orang tewas dalam serangan gas sarin di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oposisi Suriah pada 4 April. REUTERS/Murad Sezer

    Petugas medis Suriah melakukan latihan bagaimana memberikan pertolongan pada korban serangan kimia di Gaziantep, Turki, 20 Juli 2017. Sekitar 100 orang tewas dalam serangan gas sarin di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oposisi Suriah pada 4 April. REUTERS/Murad Sezer

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson, menuding pemerintah Rusia ikut bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia oleh pasukan militer Suriah terhadap kelompok pemberontak di Ghouta Timur, dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

    "Baru saja kemarin, lebih dari 20 warga sipil, terutama anak-anak, menjadi korban serangan gas klorin," kata Tillerson dalam Konferensi Senjata Kimia di Paris, Prancis, seperti dilansir media Jerman, DW, Selasa, 23 Januari 2018.

    Baca: Rusia Tuduh Amerika Serikat Picu Ketegangan di Afrin Suriah

    Tillerson juga berujar, "Siapa pun yang melakukan penyerangan dengan gas kimia itu, Rusia yang paling bertanggung jawab, terutama terhadap korban serangan di Ghouta Timur dan berbagai serangan dengan zat kimia lain sejak keterlibatan Rusia di Suriah."

    Baca: Rusia Siap Mediasi Korea Utara - Amerika Serikat, Ini Syaratnya

    Seperti dilansir Reuters, Rusia melibatkan diri dalam konflik perang saudara di Suriah setelah Presiden Bashar Al Assad meminta bantuan. Pada Desember lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kemenangan Suriah atas kelompok teroris ISIS setelah berhasil merebut beberapa kota yang dikuasai kelompok itu.

    Tillerson menuturkan Rusia bertanggung jawab untuk menghancurkan stok senjata kimia Suriah.

    Menanggapi tudingan ini, Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia, mengatakan tudingan Tillerson itu terburu-buru. Menurut Nebenzia, tudingan ini dikeluarkan bersamaan dengan pertemuan Paris, yang melibatkan Amerika bersama 23 negara lain untuk meluncurkan sebuah organisasi baru. Organisasi ini untuk menghukum semua pelaku penggunaan senjata kimia. "Ini kebetulan yang aneh," ucap Nebenzia.

    Militer Suriah sebelumnya terbukti menggunakan gas sarin untuk menyerang para pemberontak. Berdasarkan temuan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, Suriah menggunakan gas sarin pada 4 April 2017 dan beberapa kali menggunakan gas klorin.

    Terkait dengan ini, Prancis menerapkan sanksi terhadap 25 orang dan entitas, baik dari Cina, Lebanon, maupun Prancis, yang terlibat sebagai importir dan distributor logam, peralatan elektronik, dan sistem cahaya dalam konteks membantu rezim Suriah membangun program senjata kimia.

    "Situasi saat ini tidak bisa berlangsung," ujar Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Prancis. "Para penjahat yang menggunakan dan merancang senjata barbar ini harus tahu mereka tidak akan lolos dari hukuman," tutur Le Drian. Menteri Luar Negeri Amerika Tillerson meminta Rusia memastikan stok senjata kimia Suriah dihancurkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.