Trump ke Davos, Modi Bela Globalisasi dan Serang Proteksionisme

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa dari Ukraina dengan bertelanjang dada memanjat pagar pintu masuk tempat konferensi World Economic Forum di Davos, Swiss, berlangsung, Sabtu (28/1). Pertemuan itu dihadiri para CEO dan pejabat tinggi berbagai negara di dunia. AP/Anja Niedringhaus

    Pengunjuk rasa dari Ukraina dengan bertelanjang dada memanjat pagar pintu masuk tempat konferensi World Economic Forum di Davos, Swiss, berlangsung, Sabtu (28/1). Pertemuan itu dihadiri para CEO dan pejabat tinggi berbagai negara di dunia. AP/Anja Niedringhaus

    TEMPO.CODavos -- Perdana Menteri India, Narendra Modi, membela globalisasi dan menyerang proteksionisme pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dikenal dengan slogan proteksionisme "Amerika Pertama".

    "Bukannya globalisasi, kekuatan proteksionisme malah muncul," kata Modi, yang berbicara dalam Bahasa Hindi dan merupakan pemimpin India pertama yang berbicara di forum itu sejak 20 tahun terakhir, seperti dilansir Reuters, Selasa, 23 Januari 2018, waktu setempat.

    Baca: Pemimpin Eropa Bakal Berhadapan dengan Trump di Davos

     

     Perdana Menteri India Narendra Modi saat berbicara dalam pembukaan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, 23 Januari 2018. REUTERS

    Pernyataan ini membuat para hadirin, yang merupakan tokoh bisnis dunia, Presiden dan Perdana Menteri, serta selebriti, ramai-ramai mengenakan headset translasi pidato untuk mendengarkan lebih jauh.

    Baca: Pemerintah AS Alami Shutdown, Trump Batal ke Davos?

     

    "Keinginan mereka tidak hanya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari globalisasi tapi juga mengubah arus alami globalisasi." Pernyataan Modi ini menggaungkan semangat globalisasi oleh Presiden Cina, Xi Jinping, di Davos pada 2017.

    Modi tiba di resor ski Davos dengan membawa delegasi besar terdiri para pengusaha dan pejabat tinggi untuk menunjukkan pencapaian pertumbuhan ekonomi India yang tinggi dan menjadi salah satu kekuatan pertumbuhan global.

    Reuters melansir pidato Modi ini sebagai kemenangan pribadi pemimpin nasionalis India ini, yang sempat ditolak Barat karena gagal mencegah kerusuhan komunal di Gujarat, India.

    Menanggapi pidato ini, Anindya Bakrie, chief executive officer PT Bakrie Global Ventura, yang merupakan bagian dari konglomerasi Bakrie, mengatakan pernyataan Modi ini merupakan kontras terhadap semangat isolasi AS.

    "Bagi negara-negara berkembang, ketika kita mendengar mengenai Amerika berbicara soal isolasi, ini cukup mengkhawatirkan. Jadi semakin banyak pemimpin dunia berbicara mengenai manfaat globalisasi maka semakin bagus," kata Anindya.

    Menurut Arun Kumar, CEO perusahaan akuntansi KPMG di India,"Dia (Modi) menjabarkan posisi India yang mendukung dunia multipolar dan multikultural."

    Seperti diberitakan, Trump menggagas ide "Amerika Pertama" dan mengancam menarik diri dari perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Trump juga sudah menyatakan Amerika keluar dari pembahasan Trans Pacific Partnership, yang merupakan aliansi perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik, yang justru didukung Presiden Barack Obama.

    Trump juga menyatakan Amerika keluar dari Kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim. Dia juga mengkritik peran NATO dan PBB, yang menurutnya tidak efektif dan menghabiskan banyak dana. Trump akan berbicara di Davos pada hari terakhir yaitu Jumat waktu setempat.

    Presiden Cina, Jinping, tidak menghadiri pertemuan kali ini. Dia juga dianggap belum memenuhi janjinya untuk membuat perekonomian Cina semakin terbuka bagi para investor. Namun, pidato Jinping saat itu dianggap mengisi kekosongan kepemimpinan dunia setelah Trump menarik diri dari berbagai forum internasional.

    Modi menjabarkan tiga poin utama, yang menjadi tantangan dunia, dalam pidatonya yaitu perubahan iklim, terorisme, dan proteksionisme yang bermunculan. "Hasilnya adalah kita melihat hambatan tarif dan non-tarif mulai diterapkan. Negosiasi perdagangan bilateral dan multilateral sepertinya terhenti," kata dia di Davos.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.