Bangladesh Putuskan Tunda Pemulangan Rohingya ke Myanmar

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi Rohingya, Asad Ali bersama anaknya, Foyas Noor yang mengalami gangguan mental, mengemis di sebuah pasar di kamp pengungsian Kutupalong, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 15 Januari 2018. REUTERS/Tyrone Siu

    Pengungsi Rohingya, Asad Ali bersama anaknya, Foyas Noor yang mengalami gangguan mental, mengemis di sebuah pasar di kamp pengungsian Kutupalong, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 15 Januari 2018. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.CO, Jakarta - Bangladesh menunda pemulangan pengungsi Muslim Rohingya ke Myanmar tanpa memberi batas waktu. 

    Pada Senin, 22 Januari 2018, otoritas Bangladesh mengatakan proses pemulangan Rohingya ke Myanmar tidak akan dimulai pada 23 Januari 2018, seperti yang disepakati Bangladesh dan Myanmar dalam pertemuan pekan lalu. 

    Baca: Militan Rohingya Tuding Repatriasi Pengungsi Hanya Jebakan

    Bangladesh beralasan  persiapan untuk proses pemulangan pengungsi Rohingya masih belum lengkap, sehingga jadwal pemulangan diundur.

    "Masih banyak lagi yang belum ditangani," kata Abul Kalam, Komisaris untuk restorasi pengungsi Bangladesh, seperti yang dilansir Reuters pada 22 Januari 2018.

    Kalam menyebutkan penundaan dikarenakan antara lain proses penyusunan dan verifikasi daftar orang yang akan dikirim kembali tidak lengkap. Adapun kamp sementara untuk pengungsi Rohingya masih terus dibenahi. 

    Baca: 9 Temuan PBB Pelanggaran HAM Militer Myanmar atas Rohingya

    "Daftar yang dikirim untuk pulang belum selesai karena beberapa belum lolos konfirmasi. Kamp sementara masih terus dibenahi," Ungkap Kalam.

    Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pekan lalu, Muslim Rohingya akan dideportasi dari Bangladesh ke dua pusat pengungsi yang berada di perbatasan Myanmmar. Proses pemulangan Muslim Rohingya ke Myanmar diperkirakan akan berlangsung selama dua tahun.

    Keputusan tersebut muncul saat ketegangan meningkat di kamp-kamp yang menampung ratusan ribu pengungsi, beberapa di antaranya menentang pemindahan mereka kembali ke Myanmar karena kurangnya jaminan keamanan.

    Di kamp pengungsi Palongkhali, di dekat sungai Naf yang menandai perbatasan antara kedua negara, sekelompok pemimpin Rohingya berkumpul Senin pagi dengan sebuah loudspeaker dan sebuah spanduk berisi syarat yang harus dipenuhi untuk kembali ke Myanmar.

    Baca: Myanmar - Bangladesh Tak Sepakat Pemulangan Pengungsi Rohingya

    Ini termasuk jaminan keamanan, pemberian kewarganegaraan, dan pengakuan kelompok tersebut dalam daftar etnis minoritas Myanmar. Rohingya juga meminta agar rumah, masjid dan sekolah yang terbakar atau rusak dalam operasi militer dibangun kembali.

    Pejabat angkatan darat Bangladesh tiba di tempat demonstrasi tersebut dan membubarkan kerumunan 300 orang. Saksi mata mengatakan, mereka melihat tentara mengambil salah satu pemimpin Rohingya yang sedang memegang spanduk.

    Lebih dari 655.500 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar mengadakan operasi militer i bagian utara negara bagian Rakhine untuk memberangus para pemberontak Rohingya terhadap pasukan keamanan pada 25 Agustus 2017. PBB menggambarkan operasi militer tersebut sebagai pembersihan etnis Rohingya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.