Tak Hafal Nama Filsuf Yunani, Suaka Pria Pakistan Ditolak Inggris

Reporter:
Editor:

Sita Planasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung-patung besar di dalam Long Room menggambarkan para filsuf dan penulis hebat dari Barat, yang juga dihubungkan dengan Trinity College.Koleksi patung ini mulai dibuat pada 1743 oleh pematung bernama Peter Scheemakers. boredpanda.com

    Patung-patung besar di dalam Long Room menggambarkan para filsuf dan penulis hebat dari Barat, yang juga dihubungkan dengan Trinity College.Koleksi patung ini mulai dibuat pada 1743 oleh pematung bernama Peter Scheemakers. boredpanda.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Petugas imigrasi Inggris menolak permohonan suaka seorang humanis Pakistan setelah gagal menjawab pertanyaan tentang filsuf Plato dan Aristoteles secara memadai.

    Pria tersebut telah mencari perlindungan di Inggris setelah mencela Islam dan bergabung dengan organisasi Humanis Amerika Serikat.

    Namun Kantor Kementerian Dalam Negeri Inggris mengatakan ketidakmampuan Hamza bin Walayat untuk menyebutkan nama salah seorang filsuf terkenal Yunani yang humanistik mengungkapkan bahwa pengetahuannya tentang humanisme "tidak sempurna."

    Kantor tersebut dilaporkan menyimpulkan bahwa kekhawatiran Walayat terhadap penganiayaan agama di Pakistan, di mana dia mengklaim telah menerima ancaman kematian dari keluarganya sendiri, sebagai tidak berdasar.

    Baca juga:

    Menikah di Inggris, Lesbian Pakistan Minta Suaka

    Walayat bergabung dengan Humanis Inggris pada Agustus lalu. Organisasi tersebut menggambarkan dirinya sebagai "badan amal nasional yang bekerja atas nama orang-orang non-religius".

    "Bagi banyak orang, deskriptif 'humanis' hanyalah cara yang lebih sopan untuk mengatakan ateis, terutama jika Anda berasal dari tempat di mana identifikasi sebagai atheis dapat dianggap sebagai pernyataan yang sangat menyinggung," kata Bob Churchill, seorang anggota Humanisme Internasional dan Ethical Union, dalam sebuah surat yang mendukung aplikasi suaka Walayat.

    Andrew Copson, anggota Humanis Inggris, mengkritik Kantor Kementerian Dalam Negeri karena telah menetapkan "preseden berbahaya bagi orang-orang non-religius yang melarikan diri dari penganiayaan.

    Tahun lalu, setelah seorang mahasiswa Pakistan menyatakan bahwa dia adalah seorang humanis di halaman Facebook-nya. Dia dituduh menghujat dan kemudian dipukuli sampai mati oleh belasan mahasiswa di universitasnya.

    Sebuah laporan 2016 oleh Asosiasi Kristen Pakistan Inggris mencatat bahwa humanis termasuk di antara minoritas yang menghadapi penganiayaan dan penindasan di Pakistan. Kode hukum Pakistan mengkriminalkan penghujatan dengan hukuman maksimal atas hukuman mati.

    TIME | GUARDIAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fakta-fakta Pelantikan Jokowi - Ma'ruf, Dihadiri Prabowo - Sandi

    Selain beberapa wakil dari berbagai negara, pelantikan Jokowi - Ma'ruf ini dihadiri oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.