Korea Utara Kirim 230 Cheerleaders ke Olimpiade, Jepang: Waspada

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melihat aktivitas mahasiswa yang tengah berolahraga saat mengunjungi Akademi Pelatihan Guru yang baru direnovasi, di Pyongyang, Korea Utara, 17 Januari 2018. KCNA/via REUTERS

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melihat aktivitas mahasiswa yang tengah berolahraga saat mengunjungi Akademi Pelatihan Guru yang baru direnovasi, di Pyongyang, Korea Utara, 17 Januari 2018. KCNA/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Korea Utara akan mengirimkan 230 cheerleaders ke Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Utara pada Februari mendatang. Kehadiran cheerleaders itu untuk menyemangati dua atlit ski yang dikirim ke Olimpiade Musim Dingin ini, mengutip Yahoo.News, 17 Januari 2018. Meski menurut laporan Time, Korea Utara terlambat memastikan keikutsertaan kedua atlitnya itu.

    Baca: Delegasi Korea Utara - Korea Selatan Bertemu, Ini yang Dibahas

    Mencermati kedatangan delegasi Korea Utara, kelompok konservatif menganggap jumlah cheerleaders dan skuad artis yang akan datang terlalu banyak.

    Mereka khawatir Korea Utara mencoba mencuri perhatian dalam pertandingan di Olimpiade untuk meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai "serangan damai".

    Baca: Khawatir Pecah Perang, Tentara Korea Utara Tidur Pakai Sepatu

    Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono bahkan meminta dunia untuk tidak naif mengenai serangan ramah Korea Utara dalam Olimpiade ini.

    "Ini bukan saatnya untuk menghapus tekanan atau memberi penghargaan kepada Korea Utara," kata Taro Kono.

    Dalam pernyataan pers bersama yang dirilis di Kementerian Unifikasi Korea di Seoul, Korea Utara akan mengirimkan 500 orang, yakni 230 cheerleaders, 140 seniman, dan 30 pemain Taekwondo untuk acara demonstrasi.

    Delegasi Korea Utara  dijadwalkan tiba di Korea Selatan pada 25 Januari 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.