Baca Rencana Perdamaian Trump, Abbas Menjadi Marah?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Riyadh, Arab , 20 Desember 2017. Palestinian President Office (PPO)/Handout via REUTERS

    Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Riyadh, Arab , 20 Desember 2017. Palestinian President Office (PPO)/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Palestina- Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, menyampaikan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Ahad, 14 Januari 2018, setelah dikabarkan mendapat bocoran rencana damai dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

    Sejumlah media Timur Tengah seperti Channel 2, Jerusalem Post, dan Maariv, melaporkan Mahmoud Abbas merasa marah setelah membaca proposal perdamaian versi Trump.

    Baca: Wartawan Senior CNN Bertanya Soal Imigrasi, Trump: Keluar!

     

    "Rencana Trump, yang ditulis oleh menantunya Jared Kushner, yang juga merangkap penasehat senior Gedung Putih, akan mendukung sebuah entitas Palestina setingkat di bawah negara," begitu dilansir Jerusalem Post, Rabu, 17 Januari 2018. "Dan batas wilayahnya tidak mengacu kepada garis sebelum 1967."Selama ini, AS mendukung solusi dua negara untuk penyelesaian konflik di Timur Tengah.

    Baca: Palestina: Pengakuan Trump Atas Yerusalem Tak Bisa Diterima

     

    Menurut Jerusalem Post, rencana Trump itu juga mencantumkan status Kota Jerusalem akan dibahas, pemukiman baru tidak akan dibongkar, dan para pengungsi Palestina tidak akan dibahas. "Menurut pemahaman kami, deklarasi Trump kemarin tidak benar-benar menjadi masalah dan tidak berdampak ke lapangan," kata Ben Caspit, yang melaporkan ini di media Maariv dan dikutip Jerusalem Post.

    Menurut laporan ini, Otoritas Palestina menggunakan momentum deklarasi Trump soal status Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel sebagai serangan penduluan (preemptive strike) untuk menggagalkan rencana Trump sebelum draf itu diumumkan. "Jadi kami tidak harus menolak rencana Trump itu secara terbuka belakangan," kata seorang pejabat senior Otoritas Palestina, yang dikutip media Maariv.

    Dalam pidato pada Ahad lalu, Mahmoud Abbas menuding pernyataan Trump bahwa status Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel sebagai tamparan di wajah abad ini.

    Abbas telah menolak secara terbuka partisipasi AS sebagai mediator untuk dialog perdamaian dengan Israel dengan alasan sikap AS telah berpihak. Ini membuat Trump mengancam akan menghentikan dana bantuan bagi para pengungsi Palestina.

    Ditanya soal ini, Ahmad Majdalani, yang merupakan orang kepercayaan Abbas, membantah laporan Channel 2 bahwa Abbas telah mengirim tim ke Saudi Arabia untuk mengetahui rencana Trump itu. "Tidak ada orang yang dikirim awal bulan ini ke Arab Saudi. Laporan itu tidak akurat," kata Majdalani.

    Menurut seorang pejabat senior Gedung Putih, Mahmoud Abbas dan para penasehatnya belum melihat secara detil rencana Trump dan menilai mereka menilai rencana itu secara prematur. "Sangat disayangkan kepemimpinan Palestina bersikap prejudis terhadap rencana belum kelar yang kami buat," kata pejabat itu sambil menambahkan rencana itu akan dipresentasikan kepada Israel dan Palestina pada waktu yang tepat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.