Swedia Dukung Perjanjian Nuklir Iran, Kritik Trump Keliru

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah misil balistik milik Iran yang disimpan di ruang bawah tanah di lokasi yang dirahasiakan, 8 Maret 2016. Meski dapat memuat hulu ledak nuklir, rudal-rudal milik Iran diklaim hanya untuk kepentingan penggentar konvensional. Di antara sejumlah rudal, ada yang mampu menjangkau target sejauh 2.000 kilometer sehingga secara teori sanggup mencapai Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. REUTERS

    Sejumlah misil balistik milik Iran yang disimpan di ruang bawah tanah di lokasi yang dirahasiakan, 8 Maret 2016. Meski dapat memuat hulu ledak nuklir, rudal-rudal milik Iran diklaim hanya untuk kepentingan penggentar konvensional. Di antara sejumlah rudal, ada yang mampu menjangkau target sejauh 2.000 kilometer sehingga secara teori sanggup mencapai Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. REUTERS

    TEMPO.COTehran -- Duta Besar Swedia untuk Iran, Helena Sangeland, mengkritik sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dikabarkan enggan mendukung perjanjian nuklir dengan Iran, sebagai kesalahan besar.

    "Eropa dan Swedia telah mendukung secara penuh implementasi perjanjian nuklir dan telah menyatakan Iran memenuhi komitmennya terkait perjanjian itu," kata Sangeland dalam konferensi yang digelar Dewan Strategis untuk Hubungan Luar Negeri Iran di Tehran, seperti dilansir Farsnews dan Tasnimnews pada Rabu, 10 Januari 2018.

    Baca: Trump Cuit Unjuk Rasa Ekonomi di Mashad, Ini Kata Kemenlu Iran

     

    "Jika Amerika mengenakan sanksi, mereka akan membuat kesalahan besar," kata Sangeland melanjutkan. Diplomat perempuan ini mengatakan perjanjian nuklir, yang disepakati Iran dan Group 5+1 seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Perancis, dan Inggris plus Jerman pada 2015, ini sangat penting bagi negara-negara Eropa. Ini karena Eropa ingin mengembangkan hubungan perdagangan dan ekonomi lebih jauh dengan Iran.

    Baca: Trump Jatuhkan Sanksi Atas 5 Entitas Iran terkait Program Rudal

     

    "Meskipun ada berbagai kesulitan, volume perdagangan antara Iran dan EU telah tumbuh hingga tahun ini," kata dia.

    Pernyataan Sangeland ini muncul setelah Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, memperingatkan pelanggaran perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPO) oleh AS bakal menimbulkan konsekuensi negatif bagi AS. Dia juga meminta International Atomic Energy Agency untuk menyikapi hal ini dengan serius.

    "Republik Islam bisa mengkaji kembali kerja sama dengan lembaga nuklir PBB jika AS tidak patuh pada perjanjian nuklir multilateral yang telah disepakati oleh Iran dan Group 5+1," kata Salehi dalam percakapan telepon dengan Direktur Jenderal IAEA, Yukiya Amano, pada Senin, 9 Janauari 2018.

    Seperti diberitakan, negara-negara penandatangan perjanjian nuklir dengan Iran bakal menyatakan sikapnya pada 10 Januari 2018 waktu setempat mengenai perpanjangan penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran. Namun, Trump telah jauh-jauh hari sebelumnya menolak perjanjian nuklir itu dan menyebutnya hanya menguntungkan Iran. Dia mengkritik Presiden Barack Obama dan ketua tim negosiasi perjanjian nuklir AS karena telah membuat perjanjian yang buruk. "Perjanjian itu hanya memperkuat posisi Iran di kawasan Timur Tengah," kata Trump.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.