Rabu, 23 Mei 2018

3 Perseteruan Iran melawan Amerika Serikat

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto Ayatollah Khomeini dan slogan anti-Amerika yang dibawa pengunjuk rasa saat aksi di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, November 1979. AP

    Foto Ayatollah Khomeini dan slogan anti-Amerika yang dibawa pengunjuk rasa saat aksi di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, November 1979. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Perseteruan Iran dengan Amerika Serikat dalam sejarah modern ini setidaknya ada tiga hal.

    Pertama,
    Penggulingan pemimpin bengis yang mendapatkan dukungan penuh Amerika Serikat, Shah Reza Pahlevi, oleh kaum Mullah dan mahasiswa Iran pada 1979.

    Aksi ini selanjutnya mendorong munculnya gerakan revolusi yang dipimpin Ayatullah Rohullah Khomeini dari pengasingan di Prancis dan mendapatkan sokongan dari rakyat serta mahasiswa Iran.

    Baca: Obama dan Putin Puji Kesepakatan Baru Nuklir Iran

    Mohammad Shah Reza. wikipedia.org

    Situs berita history.com menyebutkan, "Revolusi Republik Islam Iran dimulai dari gerakan 4 November 1979". Ketika itu, sekelompok mahasiswa menggeruduk kedutaan besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera lebih dari 60 warga Amerika Serikat.

    Penyerbuan ke kedutaan besar Amerika Serikat itu membuat Presiden Jimmy Carter marah. Dia memutuskan mengizinkan Shah Reza yang pro-Barat tinggal di Amerika Serikat dengan alasan berobat akibat sakit kanker.

    Kedua,
    Penahanan empat pemilik kewarganegaaran ganda Iran dan Amerika Serikat. Menurut Madjid Rafizadeh dalam tulisannya yang dimuat di Huffingtonpost, Iran telah memenjarakan sejumlah warga negara Barat termasuk Eropa dan Amerika Serikat yang memiliki etnis Iran.

    "Iran menukarkan empat tahanan Amerika Serikat dengan tujuh warganya yang diperam dalam penjara Amerika Serikat," ujarnya di Huffingtonpost.

    Selanjutnya dia mengatakan, Presiden Barack Obama, saat itu, diam-diam mengirimkan uang ke Iran senilai US$ 400 juta atau setara dengan Rp 5,4 triliun ke Iran karena telah membebasakan warganya.

    Ketiga,
    Soal nuklir. Persoalan program nuklir membuat Amerika Serikat dan para sekutunya geram. Iran dituding oleh Amerika Serikat mengembangkan program persenjataan nuklir dan pembuatan rudal baslistik yang sanggup meluncur antarbenua.

    Meskipun tuduhan tersebut ditampik Iran, namun Amerika Serikat dan Barat termasuk Israel tak percaya. Sikap keras Iran itu kian menguat ketika Negeri Mullah itu dipimpin oleh Mahmoud Ahmadinejad yang didukung kelompok garis keras.Demonstran pro-pemerintah berbaris di Arak, Iran, 3 Januari 2018. Sebanyak 450 lain dikabarkan ditangkap akibat unjuk rasa yang diwarnai aksi kekerasan. Iran Press via AP

    Kendati sikap Iran sempat melunak ketika Presiden Hassan Rouhani menjadi presiden sehingga sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut, tetapi Presiden Donald Trump tak mengakui niat baik Iran tersebut.

    Baca: Israel Siap Perang Jika Trump Gagal Hentikan Senjata Nuklir Iran

    Pada akhir Desember 2017, Iran diguncang unjuk rasa di hampir seluruh kota besar. Menurut Iran, aksi yang menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai 450 korban itu didalangi oleh Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi.

    "Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi berada di balik unjuk rasa tersebut," kata aparat keamanan Iran seperti dikutip sejumlah media.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.