Netanyahu, Sheldon dan Trump Buat Rencana Soal Kota Yerusalem?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump dengan ditemani Wakil Presiden Mike Pence, menunjukkan tandatangan hasil pernyataannya di Gedung Putih, di Washington, AS, 6 Desember 2017. Selama tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara lainnya di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948. REUTERS

    Presiden Donald Trump dengan ditemani Wakil Presiden Mike Pence, menunjukkan tandatangan hasil pernyataannya di Gedung Putih, di Washington, AS, 6 Desember 2017. Selama tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara lainnya di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Status Kota Yerusalem menjadi perhatian dunia internasional saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kota itu menjadi ibu kota Israel.

    Menurut buku “Fire and Fury: Inside the Trump White House”, sejak awal Trump memang berencana memindahkan kantor kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Kota Yerusalem. Ada dua tokoh yang berpengaruh besar dalam rencana ini yaitu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan konglomerat Sheldon Adelson, yang merupakan komisaris dan pemegang saham mayoritas Las Vegas Sands.

    Baca: Haley: Amerika Serikat Undang Negara Pendukung Yerusalem

     

    Las Vegas Sands merupakan operator kasino terbesar dunia dan memiliki Marina Bay Sands di Singapura serta Venetian Macao Limited di bidang perhotelan.

    Baca: Guatemala Berharap Negara Lain Ikuti Langkahnya Soal Yerusalem

     

    Ini terungkap dalam percakapan antara Steve Bannon, yang pernah menjadi kepala strategi Gedung Putih, dengan Roger Ailes, yang pernah menjadi kepala media Fox News, pada 3 Januari 2017 menjelang pelantikan Trump sebagai Presiden.

    “Hari pertama kita memindahkan kedubes AS ke Yerusalem. Netanyahu ikut. Sheldon ikut,” kata Bannon sambil menyebut nama Sheldon Adelson. Sebulan sebelumnya, Adelson pernah menyatakan secara terbuka bahwa Trump bakal menjadi Presiden AS terbaik yang pernah ada bagi Israel.

    Sheldon merupakan salah satu penyandang dana kampanye Trump. Dia ikut hadir pada acara konferensi Koalisi Yahudi Republik, yang mengumpulkan para donatur kakap bagi Trump dan kandidat presiden lainnya dari Partai Republik. Sheldon telah menyumbang hingga sekitar $80 juta atau sekitar Rp1 triliun pada 2016 untuk kepentingan Partai Republik.

    Masih menurut buku yang ditulis jurnalis Michael Wolff, Bannon juga menceritakan rencana Trump soal perdamaian di Timur Tengah.

    “Kita semua tahu mengarah kemana soal ini… Biarkan Yordania mengambil kawasan Tepi Barat, biarkan Mesir mengambil Gaza. Biarkan mereka menanganinya. Atau gagal saat mencobanya.”

    Saat itu, Ailes disebut dalam buku ini bertanya kepada Bannon. “Posisi Donald ada dimana soal ini?”

    Bannon menjawab,”Dia sepenuhnya ikut rencana ini.”

    Pada 6 Desember 2017, Trump akhirnya mengumumkan kebijakannya bahwa status Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusan ini membalik kebijakan luar negeri AS selama tujuh dekade dan menuai kecaman dari 128 negara anggota PBB termasuk dua sekutu dekat AS yaitu Inggris dan Perancis.

    Soal buku ini, Trump mengecam keras isinya, yang menurutnya banyak menyajikan informasi fiktif dan keliru. Dia telah memerintahkan pengacara pribadinya untuk menghentikan peredaran buku itu, yang awalnya akan diterbitkan pada Selasa pekan depan. Buku ini akhirnya diterbitkan lebih cepat pada Jumat, 5 Januari 2018, oleh penerbit, yang sebelumnya telah mendapat surat somasi dari pengacara Trump.

    CNN | GUARDIAN | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.