Ini Kata Pengamat Cina Soal Latihan Perang AS dan Korea Selatan

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap ledakan bom yang dikeluarkan dari sebuah tank K-2 milik Korea Selatan saat berlatih di menembak di Yangpyeong, Korea Selatan, 18 Februari 2016. Latihan ini guna mempersiapkan militer Korea Selatan hadapi perang dengan Korea Utara. AP Photo

    Asap ledakan bom yang dikeluarkan dari sebuah tank K-2 milik Korea Selatan saat berlatih di menembak di Yangpyeong, Korea Selatan, 18 Februari 2016. Latihan ini guna mempersiapkan militer Korea Selatan hadapi perang dengan Korea Utara. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat militer Cina menanggapi kesepakatan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, untuk menghentikan latihan perang kedua negara selama berlangsungnya Olimpiade Musim Dingin di negeri ginseng itu.

    Tanggapan ini dilansir media Global Times, yang merupakan corong pemerintah Cina untuk berbagai isu luar negeri.

    Baca: Kecewa, Trump: Cina Jual Minyak ke Korea Utara!

     

    "AS merasa khawatir bakal ada perubahan terhadap rencana latihan perang gabungan AS -- Korea Selatan pada Maret nanti," kata Yang Xiyu, seorang peneliti senior di China Institute of International Studies seperti dilansir Global Times, Kamis, 4 Januari 2018.

    Baca: Jenderal Cina: Perang Pecah di Semenanjung Korea Maret 2018

     
    Menurut Yang, jika Korea Utara mengirimkan delegasi untuk mengikuti Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpic di Korea Selatan bulan depan,"Korea Selatan bisa saja mengusulkan penundaan hingga pembatalan latihan gabungan militer ini."

    Seperti dilansir kantor berita Korea Selatan, Yonhap, pada Kamis, 4 Januari 2018, Trump dan Moon sepakat untuk menunda latihan militer pada bulan depan karena Olimpiade Musim Dingin akan berlangsung di Korea Selatan.

    Trump lewat cuitannya di akun Twitter @realdonaldtrump, juga mencuitkan dukungan dialog antara kedua Korea, yang bisa berlangsung pada pekan depan. Ini bisa terjadi, menurut Trump, karena sikap tegasnya kepada Korea Utara untuk menggunakan semua kekuatan maksimal terhadap negara komunis. itu.

    Dalam pidato Tahun Baru 2018, pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, menerima tawaran dari Presiden Moon untuk mengirimkan delegasi ke ajang olimpiade. Dia mendesak kedua negara segera mengirim delegasi untuk membahas soal ini. Korea Utara juga mulai mengaktifkan kembali jalur telepon hotline dengan Korea Selatan sejak Rabu lalu. Kedua Korea rencananya bakal menggelar dialog pada pekan depan soal berbagai isu termasuk upaya menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea.

    Namun dalam pidato tahun baru itu, Kim Jong Un juga menegaskan tidak akan mundur dari program senjata nuklir dan mengancam akan menggunakannya jika negara itu diserang. Kim mengaku ada tombol nuklir terpasang di meja kerjanya siap ditekan jika keadaan mendesak. Menanggapi pernyataan Kim itu, Trump mengatakan tombol nuklirnya lebih besar. Cina merupakan sekutu terdekat Korea Utara namun mendukung sanksi DK PBB atas negara komunis itu.

    GLOBAL TIMES | TWITTER| REUTERS | YONHAP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.