Kaleidoskop 2017: 8 Peristiwa Monumental di Asia, Amerika, Eropa

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan anak-anak pengungsi Rohingya berdesak-desakan saat menunggu untuk mendapatkan makanan di pusat distribusi kamp pengugsian Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 17 November 2017. REUTERS/Navesh Chitrakar

    Puluhan anak-anak pengungsi Rohingya berdesak-desakan saat menunggu untuk mendapatkan makanan di pusat distribusi kamp pengugsian Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 17 November 2017. REUTERS/Navesh Chitrakar

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratap tangis, kematian, suksesi kekuasaan hingga tuntutan merdeka mewarnai kawasan Asia, Amerika, dan Eropa yang direkam dalam Kaleidoskop 2017. Tiga kawasan ini menghadapi berbagai persoalan berat yang dampaknya tak hanya dirasakan di dalam negeri saja, tapi juga mengancam keselamatan dan keamanan negara jiran, regional bahkan umat manusia di seluruh dunia. 

    Berikut  peristiwa monumental dan peran tokoh dunia sepanjang 2017:

    1. Pelantikan Donald Trump, 71 tahun, sebagai presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2017. Ia menjadi presiden AS ke 45. Setelah itu, Trump membuat kebijakan-kebijakan kontraversi tak hanya bagi rakyatnya tapi negara-negara sekutu maupun musuhnya.

    Misalnya tentang keputusan Trump melarang masuk imigran maupun pendatang dari 6 negara Muslim, membangun tembok pembatas dengan Meksiko, dan mencabut atau merevisi sejumlah undang-undang masalah kesehatan atau Obamacare dan pajak yang dirumuskan Barack Obama.

    Trump juga presiden AS satu-satunya yang secara terang-terangan mengeluarkan ancaman perang dan ejekan merendahkan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

    Ia juga menegaskan Amerika keluar dari Trans Pacific Partnership. Trump merajut kembali kerja sama ekonomi dengan Cina meski tidak sepenuh hati. Pasalnya, Cina dianggap berteman baik dengan Korea Utara.

    Pemerintahan Trump yang hampir setahun berjalan telah diwarnai upaya partai Demokrat untuk memakzulkannya.

    Donald Trump mengucap sumpah meggunakan alkitab yang diguanakan Abraham Lincoln in 1861. dailymail.co.uk

    2. Kim Jong Nam, saudara tiri Kim Jong Un tewas diracun di bandara internasional Kuala Lumpur , KLIA 2, pada hari Senin, 13 Februari 2017. Ia tewas setelah dioles racun yang diketahui bernama ethyl N-2-Diisopropylaminoethyl methylphosphonothiolate atau VX. Racun ini sangat mematikan dan telah dilarang PBB untuk digunakan.

    Dua wanita, yakni  Siti Aisyah warga Indonesia dan Doan Thi Huong warga Vietnam dilaporkan yang mengoles racun itu ke wajah dan tubuh Kim Jong Nam. Agen intelijen Korea Utara diduga merekrut dua wanita ini dengan iming-iming jadi pemain acara lucu-lucan alias prank di televisi Korea. 

    Dalam tempo sekitar 20 menit sejak diolesi racun VX,  Kim Jong Nam tewas di rumah sakit di kawasan KLIA 2. Pembunuhan Kim Jong Nam  diduga atas perintah Kim Jong Un yang khawatir saudaranya itu akan melakukan perlawanan dari luar untuk merongrong pemerintahannya.

    Gara-gara kasus kematian Kim Jong Nam, hubungan diplomatik Malaysia dan Korea Utara memburuk. Siti Aisyah dan Doan Th Huong menjadi satu-satunya terdakwa pembunuh putra pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il.

    Kim Jong-nam, putra tertua Kim Jong-Il, melambaikan tangan seusai diwawancarai media Korea Selatan di Macau (4/6/2010). Menurut Dailymail, Jong-nam dikabarkan hidup berpindah-pindah untuk menghindari upaya pembunuhan yang ditujukan kepadanya. (JoongAng Sunday/AFP/Getty Images)

    3. Rohingya diusir dari Myanmar
    Serangan bersenjata terhadap pos jaga polisi dan militer di Rakhine oleh kelompok pemberontak Tentara Penyelamat Rakyat Rohingya atau ARSA memicu operasi militer Myanmar di negara bagian Rakhine.

    Operasi militer memburu milisi ARSA membuat etnis Rohingya di Rakhine semakin terjepit, ketakutan, dan menjadi korban persekusi militer Myanmar.

    Sedikitnya 700 ribu etnis Rohingya dengan berduyun-duyun melarikan diri menyeberangi laut menuju Bangladesh.

    Rakhine sepi dan militer mengisolasi daerah itu sehingga tidak dapat dimasuki siapapun tanpa izin aparat militer.

    Menjelang akhir tahun ini Bangladesh dan Myanmar sepakat untuk menunjuk Badan PBB untuk Urusan Pengungsi , UNHCR, memfasilitasi proses repatriasi atau pemulangan kembali ratusan ribu etnis Rohingya.

    Namun UNHCR menyatakan, Rakhine belum sepenuhnya layak untuk tempat tinggal Rohingya dan belum ada jaminan mereka diterima kembali mengingat status mereka bukan warga Myanmar. Pemerintah Myanmar tidak mengakui mereka, sebaliknya Rohingnya dianggap imigran dari Bangladesh.

    Sejumlah pengungsi berdesak-desakan saat mengantre untuk menerima sumbangan makanan di kamp pengungsi Balukhali di dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 15 Desember 2017. REUTERS

    4. Pemimpin gerakan demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi mungkin peraih Nobel perdamaian yang pertama dihujani kritik dari dunia internasional atas sikapnya terhadap Rohingya yang dianggap memihak rezim militer Myanmar dan kelompok radikal Budha. Inggris menggawangi pencopotan sejumlah penghargaan yang diberikan kepada Suu Kyi, anak perempuan Jenderal Aung San, pemimpin militer Myanmar yang dihormati rakyatnya.

    5. Teroris menyerang dan menguasai Marawi
    Belum reda isu pengusiran etnis Rohingya dari Myanmar, Asia Tenggara diguncangkan dengan penyerangan secara besar-besaran kelompok teroris pendukung ISIS, Maute yang didukung Abu Sayyaf ke Marawi, Filipina bagian selatan dengan penduduk mayoritas Muslim pada 23 Mei 2017.

    Kelompok teroris Maute ingin mengubah kota Marawi menjadi pusat kekuataan ISIS di Asia Tenggara. Sejumlah milisi ISIS dari sejumlah negara termasuk Indonesia terlibat dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah Filipina.

    Presiden Rodrigo Duterte memberlakukan operasi militer di kota Marawi. Amerika Serikat pun mengerahkan pasukannya untuk membantu pasukan pemerintah Filipina.

    Menteri Pertahanan Filipina pada hari Senin, 23 Oktober 2017 mengumumkan secara resmi berakhirnya pertempuran lima bulan di Marawi untuk menumpas milisi ISIS.

    Pertempuran ini dibayar sangat mahal, yakni lebih dari 1.000 milisi, tentara pemeritnah dan warga sipil Filipina terbunuh. Selain itu, setengah dari kota Marawi hancur akibat gempuran dari udara dan serangan artileri. Sekitar 400 ribu orang mengungsi.

    Sejumlah bangunan dan masjid yang hancur akibat pertempuran tentara Filipina dan militan Maute di Saduc proper, kota Marawi, Filipina, 22 Oktober 2017. Komandan militer utama Filipina mengumumkan kemenangan total atas militan Maute di kota Marawi. REUTERS/Romeo Ranoco

    6. Peluncuran rudal balistik antarbenua dan bom hidrogen Korea Utara.

    Jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua atau ICBM terbanyak dilakukan Korea Utara sepanjang 2017.Lebih dari 30 kali uji coba peluncuran rudal ICBM dengan kemampuan jangkauan hingga ke Amerika, Eropa, dan Australia.

    Di tahun ini juga Korea Utara melakukan uji coba peluncuran uji coba bom hidorgen.

    Setelah peluncuran rudal ICBM terbaru yang dinamakan Hwansong 15 pada 29 November 2017, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mendeklarasikan Korea Utara sebagai negara nuklir sejajar dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong, melihat rudal balistik antar benua Hwasong-15 yang siap diluncurkan saat uji coba di Pyongyang, 30 November 2017. Hwasong-15 yang dapat mencapai ketinggian 4.475km maka mampu untuk mencapai daratan Amerika Serikat. REUTERS/KCNA

    7. Kongres Partai Komunis Cina ke 19 pada 24 Oktober 2017 membuat momentum bersejarah bagi negara adidaya dari Asia itu. Kongres mengabadikan nama Xi Jinping, Presiden Cina, dalam konstitusi Partai Komunis hasil amandemen. Pemikiran Sosialisme Xi dengan Karateristik Cina untuk Era Baru masuk dalam konstitusi sebagai pedoman partai.

    Dengan demikian, Xi menjadi pemimpin paling berkuasa di Cina setelah Mao Zedong. Sejak Partai Komunis Cina berdiri tahun 1921, Mao satu-satunya pemimpin yang dihormati dan pemikirannya terpelihara dalam konstitusi.

    Xi Jinping. REUTERS

    8. Catalonia menuntut merdeka dari Spanyol. Dua kali referendum diadakan untuk memastikan tuntutan warga Catalonia merdeka dari Spanyol. Referendum pertama digelar atas inisiatif pemimpin daerah otonomi Catalonia, Carles Puigdemont pada 1 Oktober 2017.

    Madrid menolak mentah-mentah hasil referendum itu, memerintahkan penangkapan Puigdemont dan para pemimpin lainnnya, namun Madrid kalah cepat, para pentolan kemerdekaan Catalonia lari ke Brussels, Belgia.Meski begitu beberapa rekan mereka dijebloskan ke penjara.

    Status otonomi khusus Catalonia pun dicabut dan pemerintahan dikendalikan oleh Madrid. Hasil referendum dianggap tidak sah.

    Petugas pemadam bereaksi saat mereka menggantungkan spanduk besar yang mendukung referendum kemerdekaan di Museum Sejarah Catalonia di Barcelona, Spanyol, 28 September 2017. Petugas pemadam menjadi salah satu pendukung referendum Catalunya. REUTERS/Jon Nazca

    Bukannya tunduk, sekitar 7 juta warga Catalonia melakukan pembangkangan hingga akhirnya Madrid memutuskan untuk menggelar referendum pada 21 Desember 2017. Hasilnya, tak jauh beda dengan referendum pertama: hampir 90 persen suara menuntut Catalonia merdeka dari Spanyol.

    Puigdemont dari Brussels pun menyerukan agar Madrid memegang kata-katanya untuk memerdekakan Catalonia dan melepaskan semua tahanan yang mendukung kemerdekaan kota yang menopang 20 persen perekonomian Spanyol. Madrid belum mengeluarkan keputusan resminya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.