Natal di Filipina: Bus Jemaat Gereja Tabrakan, 20 Tewas

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kecelakaan lalu lintas di Filipina menjelang Natal. twitter.com

    Kecelakaan lalu lintas di Filipina menjelang Natal. twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah kecelakaan lalu lintas di Filipina Utara, Senin, 25 Desember 2017, melibatkan bus dan van mengakibatkan 20 jemaat gereja yang akan merayakan Natal tewas.

    "Seluruh korban memiliki hubungan keluarga," kata polisi kepada media lokal seperti dilaporkan Deutsche Welle, Senin.

    Baca: Bus Vs Van, 21 Orang Tewas di Filipina

    Pemilik Kebun Binatang Malabon, Manny Tangco, memegang macan bernama Lenlen dan orangutan bernama Pacquiao saat merayakan pesta Natal bersama dengan 200 anak-anak panti asuhan dn biarawati Roman Catholic di kota Malabon, Filipina, 21 Desember 2017. AP

    Polisi menjelaskan, insiden yang menewaskan sedikitnya 20 orang itu terjadi pada Senin subuh waktu setempat antara bus dan van "jeepney". Di antara yang tewas tersebut terdapat enam anak kecil.

    "Seluruh korban tewas itu adalah penumpang jeepney," kata otoritas setempat. "Pengemudi jeepney termasuk yang tewas dalam kecelakaan tersebut."

    Adapun sembilan penumpang di dalam minibus dan 17 penumpang lainnya mengalami luka-luka.

    Baca: Makna Natal bagi Korban Topan Haiyan  

    Sejumlah penumpang berada dalam mobil transportasi umum jeepney yang dicat Yesus di Manila, 16 September 2017. AP

    "Ada kemungkinan kecelakaan itu terjadi lantaran jeepney menyalip kendaraan di depannya. Pada saat bersamaan ada bus datang dari depan," ujar Roy Villanueva, Kepala Kepolisian setempat. "Kami juga akan memeriksa apakah pengemudi jeepney tertidur atau keluar dari jalur," tambahnya.

    Jeepney adalah kendaraan khas dan populer di Filipina yang dimodifikasi dari jeep militer Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.