Putin Sebut Strategi Keamanan Trump Agresif

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, saat berjalan menuju sesi foto dalam acara KTT APEC di Danang, Vietnam, 11 November 2017. Trump dan Putin  menyetujui sebuah pernyataan tentang Suriah, saat berbincang ketika sesi foto. REUTERS/Jorge Silva

    Presiden Donald Trump, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, saat berjalan menuju sesi foto dalam acara KTT APEC di Danang, Vietnam, 11 November 2017. Trump dan Putin menyetujui sebuah pernyataan tentang Suriah, saat berbincang ketika sesi foto. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Moskow -- Hubungan Amerika Serikat dan Rusia menghangat pasca pengumuman strategi keamanan nasional Amerika Serikat oleh Presiden Donald Trump pada awal pekan ini, yang dikritik Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan strategi Trump itu sebagai agresif. Dia menuding AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyiapkan kekuatan militer besar di perbatasan Rusia.

    Baca: Raja Salman Telepon Putin Bahas Perang Yaman

     

    "AS baru saja membuka strategi pertahanannya. Jika dilihat dari bahasa diplomatik, strategi itu jelas menyerang. Dan jika kita lihat dari bahasa militer, itu jelas agresif," kata Putin seperti diberitakan kantor berita TASS dan dikutip USA Today, Jumat, 22 Desember 2017. "Kami harus memasukkan pertimbangan soal ini ke dalam kerja praktis kami sehari-hari."

    Baca: Putin, Presiden Pertama yang Kunjungi Suriah dalam 7 Tahun

     

    Trump mengumumkan strategi keamanan nasional pada awal pekan ini dengan memilih dua negara sebagai rival utama, yaitu Cina dan Rusia, yang dinilai mencoba menantang kekuatan , pengaruh dan kepentingan AS. Kedua negara ini dituding mencoba melemahkan keamanan dan kesejahteraan AS. Trump menyampaikan strategi ini lewat pidato, yang menurut sebagian media AS, bergaya ala kampanye.

    Kongres AS memang mewajibkan semua Presiden AS untuk menjabarkan strategi keamanan nasional pada tahun pertama mereka terpilih.

    Putin, yang berbicara pada sesi acara Kementerian Pertahanan Rusia, yang digelar di luar Kota Moskow, mengkritik apa yang disebutnya sebagai 'infrastruktur menyerang' yang dibangun di Eropa. Dia menyebut pemasangan sistem persenjataan canggih di dekat perbatasan Rusia ssebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Kekuatan Rudal Nuklir Jarak Menengah 1987, yang melarang penggunaan misil canggih jarak pendek dan menengah. Perjanjian itu ditandatangani Presiden AS Ronald Reagan dan Presiden Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev, pada saat itu.

    Putin menuding sistem pertahanan misil AS yang dipasang di Rumania terdiri dari misil pencegat, yang juga terdiri dari misil jelajah jarak menengah dari darat ke darat. Ini disebut melanggar perjanjian tadi.

    Putin juga menyoroti sistem pertahanan misil jelajah dan misil balistik, yang mampu mengenai target pada jarak 500 km hingga 5500 kilometer.
    "Setiap perubahan pada kekuatan militer dan lingkungan politik di dunia harus dimonitor secara seksama baik yang dekat langsung dengan perbatasan maupun secara regional," kata Putin sambil meminta Kementerian Pertahanan meningkatkan kemampuan militer.

    Menurut Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, dalam pertemuan itu, NATO telah menggandakan jumlah latihan perang sejak 2012 di dekat perbatasan Rusia. Jumlah tentara yang dilibatkan juga naik drastis dari 10 ribu ke 40 ribu dalam tiga tahun saja. Menurut Putin, kemampuan rudal nuklir Rusia bersifat strategis dan mampu untuk melawan ancaman yang muncul.

    USA TODAY | TASS | RT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.