Myanmar Mendadak Larang PBB Masuk, Dipicu Temuan Kuburan Massal?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga di Rakhine menggali kuburan massal yang ditemukan di sebuah desa di utara provinsi Sittwe. Foto: Office of The Tatmadaw Commander in Chief

    Sejumlah warga di Rakhine menggali kuburan massal yang ditemukan di sebuah desa di utara provinsi Sittwe. Foto: Office of The Tatmadaw Commander in Chief

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Myanmar melarang masuk pelapor khusus PBB untuk melakukan penyelidikan di negara bagian Rakhine sehari setelah temuan kuburan massal baru oleh militer Myanmar.

    Pelapor khusus PBB, Yanghee Lee menerima informasi tentang larangan masuk ke Myanmar pada hari Rabu, 20 Desember 2017.

    Myanmar juga menarik kesepakatan kerja sama selama Lee di posisi itu.

    Baca: ICRC: Kehidupan Rohingya di Myanmar Berhenti

    "Saya bingung dan kecewa dengan keputusan pemerintah Myanmar. Keputusan tidak bekerja sama dengan mandat saya hanya dapat dilihat sebagai indikasi kuat bahwa ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi di Rakhine, begitu juga di seluruh negeri," kata Lee seperti dikutip dari CNN.

    Bocah pengungsi Rohingya Nur Hafes (12) menggali tanah untuk membangun toilet saat kakeknya berada di dekat tempat penampungan mereka di kamp pengungsi Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, 27 Oktober 2017. REUTERS

    Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay menjelaskan kepada CBB bahwa larangan terhadap Lee didasarkan pada kerjanya yang dinilai tidak imparsial dan objektif. "Dia tidak dipercaya," ujarnya.

    Baca: MSF: 6.700 Rohingya Tewas di Myanmar

    Sehari sebelumnya, media pemerintah Myanmar melaporkan tentang temuan kubur massal berisikan 10 jasad manusia. Kuburan massal itu ditemukan di Inn Din, sebelah utara Rakhine.

    Foto-foto yang ditunjukkan aparat militer Myanmar menunjukkan jasad-jasad manusia dan beberapa tengkorak.

    Media pemerintah mengutip pernyataan militer Myanmar bahwa investigasi akan dilakukan.

    Rakhine memanas setelah militer Myanmar melakukan tindakan keras terhadap etnis Rohingya setelah sekelompok orang menyerang pos polisi dan militer pada akhir Agustus 2017.

    Baca: Pengungsi Rohingya Ragu Keselamatannya di Myanmar

    Laporan Medicins Sans Frontieres menyebutkan sedikitnya 6.700 Rohingya tewas dalam serangan di Rakhine pada bulan pertama militer melakukan operasinya.

    Sementara militer Myanmar melaporkan sebanyak 376 teroris ARSA Bengali tewas dalam pertempuran antara 25 Agustus hingga 5 September 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.