Arab Saudi Dikabarkan Sempat Tahan Konglomerat Al-Masri, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sabih al Masri. youtube.com

    Sabih al Masri. youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha Palestina, Sabih al-Masri, yang juga berkewarganegaraan Arab Saudi dikabarkan sempat ditahan di Arab Saudi saat melakukan perjalanan bisnis ke Riyadh. Al-Masri merupakan pendiri Zara Investment Holding dan juga menjabat sebagai komisaris di Arab Bank. Al-Masri memiliki kewarganegaraan Yordania.

    “Al-Masri membatalkan acara makan malam bersama teman dan rekan bisnis sekembalinya ke Yordania pada Selasa lalu,” begitu dilansir media Reuters seperti diberitakan Al Jazeera, Sabtu, 16 Desember 2017.

    Baca: Robot Akan Gantikan Manusia dalam Dunia Kerja Arab Saudi

     

    Reuters mendapat konfirmasi dari keluarga Al-Masri soal penahanan ini. Pengusaha senior berusia 80 tahun ini ditahan pada pekan lalu untuk dimintai keterangan terkait tindak korupsi.

    Baca: Arab Saudi: Harus Diakui, Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina

     

    Menurut media Arab, Rai al-Youm, yang juga memberitakan kasus ini pada Sabtu, 16 Desember 2017, otoritas Arab Saudi tidak mengajukan tuntutan resmi kepada al-Masri, yang juga memiliki kewarganegaraan.

    Al-Masri, yang merupakan tokoh bisnis terkenal asal Yordania, dan masih berkerabat dengan konglomerat Palestina yaitu Munib al-Masri.

    Al-Masri dikenal karena sejumlah inisiatif bisnisnya seperti mendirikan Palestine Securities Exchange, dan mengelola sejumlah perusahaan investasi dan institusi keuangan di Timur Tengah, seperti Arab Bank, dan di luar kawasan itu.

    Arab Bank, yang berkantor pusat di Amman, Yordania, merupakan penyalur kredit terbesar di negara itu. Bank ini juga menjadi motor penggerak perekonomian di Timur Tengah dan Afrika Utara lewat layanan kreditnya.

    Kabar penahanan Al-Masri sempat menghebohkan Yordania karena bisnis yang dikelolanya menjadi tonggak perekonomian dan mempekerjakan ribuan karyawan.

    Arab Saudi menggelar gerakan antikorupsi pada 4 Nopember 2017 dan menangkap sekitar 200 tokoh menteri, mantan menteri, pengusaha triliuner hingga bangsawan. Sebagian mereka ditahan di Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, ibu kota Saudi.

    Komisi Antikorupsi Arab Saudi, yang dipimpin Putra Mahkota Pangeran Mohammed Bin Salman, membekukan rekening para tersangka, melarang mereka berpergian ke luar negeri dan meminta pengembalian aset minimal 30 persen.

    REUTERS | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.