Tradisi Natal yang Unik di 11 Negara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pohon Natal bertaburan lampu hias berdiri di depan Gedung Pemerintah Tokyo di kawasan bisnis Shinjuku di Tokyo, Jepang, 6 Desember 2015. Asal-usul gemerlap pohon Natal berasal dari cerita tokoh reformasi gereja, Martin Luther di Jerman yang terkesan melihat keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan. REUTERS

    Pohon Natal bertaburan lampu hias berdiri di depan Gedung Pemerintah Tokyo di kawasan bisnis Shinjuku di Tokyo, Jepang, 6 Desember 2015. Asal-usul gemerlap pohon Natal berasal dari cerita tokoh reformasi gereja, Martin Luther di Jerman yang terkesan melihat keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Tradisi merayakan kelahiran Yesus Kristus atau Natal berbeda-beda di berbagai negara. Beberapa negara juga tidak merayakan Natal bersamaan pada tanggal 25 Desember. Beberapa negara merayakan Natal justru pada tanggal 7 Januari. Mengapa? Karena ada negara yang menggunakan kalender Julian dan ada yang menggunakan kalender Gregorian.

    Berikut tradisi Natal yang unik di 11 negara, seperti dikutip dari Mirror, 15 Desember 2017.

    1.Belanda
    Tanggal paling penting adalah 5 Desember saat Santa Klaus atau Santa Nicholas tiba dengan mengendarai boat dari rumahnya di Spanyol.

    Hingga abad 19, Santa Klaus sendirian melakukan misinya yakni, memberikan berbagai hadiah kepada anak-anak yang berperilaku baik sepanjang tahun dan memberikan semangat kepada anak-anak yang bertingkah buruk dengan cara mengajari mereka kembali dan memberi sanksi.

    Lalu, pada tahun 1850, penulis buku anak-anak Jan Schenkman menggambar dirinya dengan pelayan bertubuh hitam. Belakangan dia dikenal sebagai Zwarte Piet atau si Hitam Pete.

    Tugas Zwarte Piet atau si Hitam Pete adalah masuk cerobong asap untuk memberikan hadiah-hadiah kepada anak-anak termasuk anak-anak yang hidup miskin.

    2.Iceland
    Negeri diselimuti es dan salju ada sekitar 13 Santa Klaus yang akan menyemarakkan Natal.

    Nah, 13 hari sebelum Natal, Santa pertama turun dari pegunungan dan mengunjungi setiap rumah untuk meletakan hadiah di dalam sepatu anka-anak saat mereka tertidur.

    Anak yang berperilaku baik akan mendapat hadiah menyenangkan seperti permen dan buah. Anak yang berperilaku buruk mendapat hadiah yang kurang menarik, misalnya kentang.

    Hari berikutnya Santa berikutnya yang disapa Bapa Natal datang ke kota dan begitu berikutnya.

    Lalu pada 25 Desember, mereka satu per satu pulang hingga 6 Januari dinamaia hari ke 13, dan merupakan hari terakhir perayaan Natal karena hari itu Santa terakhir kembali ke rumahnya.

    Baca: Wali Kota Salam: Natal di NazaretTetap Berlangsung

    3. Jerman
    Di negara ini, hari Natal merupakan perayaan yang terpenting di negara ini. Keluarga-keluarga memiliki tradisi menyambut Natal dengan berpesta dan beribadah ke geraja pada tengah malam.

    Mereka mendaraskan lagu-lagu Natal dan pada umumnya Natal dirayakan untuk kontemplasi dan refleksi diri.

    Seorang anak pengungsi menyanyikan salah satu lagu natal saat akan mendapatkan hadiah dari Santa Claus di Berlin, Jerman, 14 Desember 2015. Jerman kedatangan sekitar satu juta pengungsi yang melarikan diri dari negaranya akibat konflik berkepanjangan. Adam Berry/Getty Images

    4. Polandia
    Biasanya dua hari sebelum hari Natal, anak-anak Polandia akan menebak hadiah yang akan mereka terima dari Santa Klaus. Hadiah akan mulai mereka terima pada tanggal 6 Desember.

    Tanggal 6 Desember merupakan hari lahirnya Santo Nicholas atau Santo Mikolaj yang dikenal sebagai Bapa Natal.

    Jika Santa Klaus berjubah Merah dan Putih, maka Santo Nicholas berjubah putih dan warna emas yang biasa dikenakan Uskup.

    Keluarga-keluarga biasanya menghidangkan 12 jenis masakan termasuk makanan terkenal negara itu setiap Natal, pangsit pierogi dan Oplatek, sejenis wafer untuk Natal.

    5. Norwegia
    Keluarga biasanya bertukar kado pada hari raya Natal. Beberapa hadiah dikirim oleh Santa Klaus, dengan menyebut namanya Julenissen.

    Bahkan ada hadiah yang lebih unik bentuknya yang dihadiahkan oleh gnome mungil yang diberi nama Nisse.

    Jika di Inggris, anak-anak meletakkan pia dan whiski di luar rumah untuk Santa dan Rudolf, maka keluarga-keluarga di Norwegia menaruh di luar rumah bubur beras untuk Nisse karena diyakini Nisse mengawasi peternakan mereka. Mereka juga biasanya meninggalkan setangkai gandum untuk makanan burung pada perayaan Natal.

    6. Argentina
    Keluarga-keluarga di Argentina menghiasi rumah mereka dengan lampu dan karangan bunga dan menggantunkan karangan bunga berwarna putih dan merah di pintu-pintu rumah mereka.

    Pohon Natal juga populer di Argentina. Mereka biasanya menatanya mulai tanggal 8 Desember yang disebut sebagai pesta kabar gembira ketika umat Kristiani mengenang saat Maria diberitahu akan menggandung bayi Yesus.

    Dekorasi kelahiran Yesus merupakan salah satu dekorasi penting di Argentina.

    Makanan utama saat Natal dinikmati pada malam Natal. Makanan populer di malam Natal adalah daging kalkun panggang, daging babi panggang, dengan tomat dan roti Natal dan puding Pan Dulce dan Panetone.

    Baca: Paduan Suara asal Palestina Ikut Sambut Natal di Manado

    Untuk menyemarakkan Natal, penduduk Argentina biasanya menyalakan kembang api pada tengah malam.

    7. Australia
    Natal hadir di tengah libur musim panas. Warga Australia biasanya menggantungkan karangan bunga di depan pintu rumah mereka dan menyanyikan lagu-lagu Natal.

    Warga Australia juga menata rumah dan kebun mereka dengan pohon Natal dan lampu-lampu.

    Warga Australia juga biasanya menata rumah mereka dengan menaruh pohon hidup dengan dedaunan hijau dan menaruh bunga-bunga berwarna warni.

    Setiba di Australia, Santa akan berhenti menggunakan rusa kutubnya, membiarkannya beristirahat. Lalu ia menggenderai Kangoro.

    Tradisi menyambut Natal lainnya adlaah bermain kriket di halaman belakang rumah mereka.

    8. Rusia
    Serupa dengan negara-negara Eropa Timur lainnya, keluarga-keluarga di Rusia menghidangkan dan memakan 12 jenis makanan pada hari Natal sebagai simbol 12 rasul.

    Mereka kemudian beribadah ke gereja dan menikmati makanan Natal pada tanggal 7 Januari, karena Rusia menggunakan kalender Julian.

    Ortodoks Rusia Patriarch Kirill, menggelar Misa Natal Ortodoks yang digelar di Gereja Katedral Savior di Moskow, Rusia, 7 Januari 2017. Kristen Ortodoks merayakan Natal pada 7 Januari, sesuai dengan kalender Julian. (AP Photo)

    9. Nigeria

    Natal di negara ini merupakan perayaan keluarga. Banyak keluarga merayakan pesta Natal sepanjang malam. Lalu pada pagi harinya mereka beribadah ke gereja untuk mengucap syukur pada Tuhan.

    Rumah-rumah dan jalan-jalan sering didekorasi. Di rumah penduduk biasanya ditemukan pohon Natal buatan.

    Warga Nigeria juga merayakan Natal dengan memakan daging kalkun. Tradisi makanan lainnya adalah sapi, kambing, domba, dan daging ayam.

    10. Vietnam
    Perayaan Natal Vietnam sering lebih penting daripada hari Natal.

    Negara bekas jajahan Prancisi ini masih terpengaruh dengan tradisi Natal di Prancis. Misalnya makanan penutup khusus untuk Natal yang disebut reveillon atau bahasa Prancisnya 'buche de Noel' atau kue coklat dalam bentuk panjang yang dimakan sebagai makanan penutup.

    Warga Vietnam biasanya memberikan hadiah makanan dan kue coklat.

    Mereka menamai Santa sebagai Ong gia Noel alias si manusia tua Natal.

    11. Sri Lanka
    Meskipun penduduk Sri Lanka mayoritas Budha, perayaan Natal tetap merupakan hari libur. Umat Kristen di Sri Lanka merayakan Natal setiap tanggal1 Desember. Jalan-jalan didekorasi dan sejumlah pusat perbelanjaan didirikan pohon-pohon Natal berukuran besar.

    Warga Sri Lanka menamai Santo sebagai Naththal Seeya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.