Di Sidang DK PBB, Menlu AS Bilang Ini Soal Korea Utara

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pemberian penghargaan para ilmuwan oleh Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dalam Konferensi Industri Amunisi ke-8 di Pyongyang, 12 Desember 2017. Rudal ICBM Hwasong-15 diklaim mencapai seluruh daratan utama Amerika Serikat saat uji coba pada 29 November lalu. KCNA/via REUTERS

    Suasana pemberian penghargaan para ilmuwan oleh Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dalam Konferensi Industri Amunisi ke-8 di Pyongyang, 12 Desember 2017. Rudal ICBM Hwasong-15 diklaim mencapai seluruh daratan utama Amerika Serikat saat uji coba pada 29 November lalu. KCNA/via REUTERS

    TEMPO.CO, Washington DC – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, dikabarkan mundur dari tawaran awal terkait dialog tanpa syarat dengan Korea Utara.

    Media NBC News melansir Tillerson sebelumnya menyatakan siap berdialog dengan Korea Utara tanpa syarat apapun.

    Baca: Jepang Bekukan Aset 19 Perusahaan Korea Utara

     
    Namun sikap ini berubah pada saat Tillerson berpidato di sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat, 15 Desember 2017. Menurut Tillerson, Korea Utara harus menghentikan peluncuran rudal dan uji coba nuklirnya dalam jangka waktu yang lama.
     
     
     
    “Korea Utara harus berusaha agar bisa maju ke meja perundingan,” kata Tillerson kepada para menteri luar negeri yang hadir di sidang DK PBB. “Upaya tekanan harus dan akan terus berlanjut hingga proses denuklirisasi tercapai. Pada saat yang sama jalur komunikasi kami tetap terbuka.”

    Saat ditanya soal perundingan tanpa syarat dengan Korea Utara, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Cina banyak membantu tapi Rusia kurang.

    “Kita akan lihat apa yang akan terjadi dengan Korea Utara. Kita dapat banyak dukungan. Ada banyak negara yang mendukung kita, nyaris semuanya,” kata Trump kepada media.

    Soal pernyataan Tillerson ini, Menteri Pertahanan AS, James Mattis, mengatakan Tillerson dan Trump pada dasarnya sepaham.

    “Ini merupakan upaya diplomatis yang dipimpin oleh dia (Tillerson) dan Presiden. Kalian lihat dia menyatakan ada syarat yang harus dipenuhi. Diplomasi berlanjut,” kata Mattis.

    Secara terpisah, Cina dan Rusia dikabarkan berlatih pelacakan gerakan rudal balistik terkait munculnya ancaman dari Korea Utara dengan misil terbaru Hwasong – 15. Latihan ini berlangsung empat hari hingga Senin pekan depan.  

    NBC NEWS | CNN | SCMP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.