Senin, 23 April 2018

Jerman Bongkar Aksi Intelijen Cina Pakai Akun Linkedln Palsu

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Hacker. REUTERS

    Ilustrasi Hacker. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan intelijen Jerman atau BfV membongkar praktek intelijen Cina di Jerman dengan menggunakan akun Linkedln palsu untuk menggali informasi prbadi dari para politis, diplomat, dan pejabat lainnya.

    Selamat sembilan bulan, BfV meneliti akun Linkedln palsu yang digunakan Cina untuk aksi intelijennya di Jerman. Para agen intelijen Cina menyaru sebagai ilmuwan, peneliti, atau head hunter untuk merekrut tenaga kerja.

    Baca: Cina Dituduh Lakukan Aksi Intelijen Besar-Besaran di Australia

    Para agen mata-mata Cina ini telah memiliki lebih dari 10 ribu situs jaringan profesional warga Jerman.

    BfV mempublikasikan temuan profil akun linkedln palsu ini dan mendesak warga Jerman untuk waspada terhadap media sosial.

    "Boleh jadi jumlah target individu sangat banyak dan profil palsu masih belum dapat diidentifikasi," kata juru bicara BfV seperti dikutip dari Time, 11 Desember 2017.

    Beberapa profil palsu yang dipublikasikan di Linkedln misalnya bernama Rachel Li sebagai head hunter at RiseHR dan Alex Li, manajer proyek di Pusat Studi Pembangunan Sino-Eropa.

    Baca: Cina Tawarkan Rp 958,6 Juta bagi Pengungkap Intelijen Asing

    Para agen Cina ini memuat foto-foto profil yang stylish dan mereka pada umumnya lelaki dan perempuan muda, mengutip Reuters.

    Hasil penelusuran Reuters, menunjukkan para agen ini sudah terhubung dengan beberapa diplomat dan politis senior di beberapa negara di Eropa.

    Gara-gara temuan BfV, perhatian masyarakat Eropa semakin besar. BfV mengajak warga Jerman untuk menghubungi BfV jika mereka menemukan orang yang mencurigakan atau dugaan pelakunya di media sosial.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Prevalensi, Penyebab, dan Pencegahan Stunting di Indonesia 2018,

    Pada 2018, satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting karena masalah kekurangan gizi yang sudah terjadi sejak dalam kandungan.