Rabu, 23 Mei 2018

Siapakah Dalang Jaringan Andromeda yang Ditangkap FBI?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mitos Para Peretas Rusia

    Mitos Para Peretas Rusia

    TEMPO.CO, Amsterdam- Petugas penegak hukum lintas negara termasuk Europol dan Biro Investigasi Federal (FBI) berhasil membekuk jaringan Andromeda, yang merupakan jaringan kejahatan global online untuk berbagai penipuan keuangan dan penyebaran berbagai malware.

    Menurut Reuters, Selasa, 5 Desember 2017, pelaku berasal dari Belarus dengan nama kode Ar3s, yang merupakan peretas terkenal di dunia bawah tanah kejahatan internet sejak 2004. Dia dikenal sebagai pembuat piranti lunak untuk berbagai peretasan.

    Baca: 2 Alasan Trump Khawatir atas Pengakuan Eks Penasihatnya ke FBI

     

    "Andromeda merupakan salah satu malware tertua di pasaran," kata Ja Op Gen Oorths, yang merupakan juru bicara Europol. Europol merupakan lembaga penegakan hukum dari Uni Eropa.

    Baca: Catatan FBI, Duit Rp 175 M Masuk Rekening Johannes Marliem

     

    Petugas memperkirakan piranti lunak ini telah menyebar ke lebih dari satu juta komputer di berbagai negara setiap bulannya sejak 2011.

    Ar3s memiliki nama asli Sergei Yarets, 33 tahun, yang tinggal di Rechitsa, Gomel, yang merupakan kota kedua terbesar di Belarus. Dia memiliki akun Linkedin dan menuliskan posisinya sebagai direktur teknis OJSC "Televid", yang merupakan sebuah stasiun televisi di Belarus bagian selatan.

    Jaringan Andromeda ini digunakan selama bertahun-tahun untuk menyebarkan berbagai macam malware ke banyak komputer di berbagai negara.

    Menurut ahli piranti lunak asal Microsoft, yang membantu petugas mengungkap jaringan Andromeda, Andromeda mengenakan biaya sekitar $150 atau Rp2 juta untuk piranti lunak keylogger, yang berfungsi merekam semua ketikan papan kunci untuk mengetahui password dari pemilik komputer.

    Lalu, menurut temuan Europol dan FBI, Andromeda menawarkan layanan seharga US$250 atau Rp3,4 juta untuk modul yang bisa digunakan untuk mencuri data dari formulir yang diserahkan peramban atau browser. Modul ini juga bisa digunakan untuk memata-matai komputer targetnya dengan menggunakan bantuan piranti lunak buatan perusahaan Jerman yaitu Teamwiever.


  • FBI
  •  

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.