Senin, 20 Agustus 2018

FBI, Belarus dan Jerman Ungkap Jaringan Kriminal Online Andromeda

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker. foxnews.com

    Ilustrasi hacker. foxnews.com

    TEMPO.COAmsterdam -- Kerja sama petugas penegak hukum lintas negara dari Belarus, Jerman dan FBI asal Amerika Serikat, berhasil membongkar kejahatan online oleh jaringan Andromeda yang digunakan untuk melakukan penipuan keuangan. Petugas juga berhasil menangkap pelakunya.

    Polisi Belarus bekerja sama dengan Biro Penyelidik Federal (FBI) menangkap seorang peretas asal Belarus. Dia diduga menjual piranti lunak untuk melakukan kejahatan keuangan digital. Pelaku diduga berperan sebagai administrator di Jaringan Andromeda.

    Baca: 2 Alasan Trump Khawatir atas Pengakuan Eks Penasihatnya ke FBI

     

    Andromeda merupakan koleksi 'botnet' yaitu sekelompok komputer yang telah terkena virus kontrol, yang memungkinkan peretas untuk mengontrol komputer tanpa sepengetahuan pemiliknya. "Jaringan ini lalu disewakan kepada kriminal untuk menyebarkan malware atau melakukan serangan phising serta berbagai penipuan online lainnya," begitu dilansir Reuters, Selasa, 5 Desember 2017 setempat.

    Baca: Catatan FBI, Duit Rp 175 M Masuk Rekening Johannes Marliem

     

    Menurut perusahaan keamanan internet asal Swedia yang berbasis di Amerika Serikat, Recorded Future, pelaku asal Belarusia yang ditangkap memiliki nama kode "Ar3s" alias Sergei Yarets, 33 tahun.

    Otoritas di Belarus menolak mengungkapkan identitas peretas yang ditangkap. Begitu juga dengan otoritas dari Europol dan FBI.
    Reuters tidak bisa menghubungi Yarets lewat sambungan telepon ataupun sosial media. Kepada Reuters, seorang kolega Yarets membenarkan temannya itu telah ditangkap.

    Kementerian Dalam Negeri Belarus di Minsk mengatakan petugas berhasil menyita sejumlah peralatan dari kantor peretas. Pelaku juga bekerja sama dengan petugas.

    Penutupan jaringan botnet Andromeda dilakukan oleh satuan tugas bentukan Europol, yang melibatkan sejumlah lembaga penegak hukum di negara Eropa, FBI, Kantor Federal Jerman untuk Keamanan Informasi, Australia, Belarusia, Kanada, Montenegro, Taiwan dan Singapura.

    Petugas melibatkan para ahli industri piranti lunak asal Microsoft dan ESET, sebuah perusahaan keamanan internet asal Slovakia. Jumllah komputer yang terinfeksi dan menjadi botnet cukup banyak karena Andromeda telah beroperasi sejak beberapa tahun terakhir.

    Peretas asal Belarus itu menjual tiap copy piranti lunak seharga $500 atau Rp6,5 juta dan tambahan $10 atau Rp130 ribu untuk update.
    Otoritas Jerman dan teknisi Microsoft berhasil menguasai jaringan Andromeda sehingga informasi dari komputer para korban dialihkan ke server yang dikuasai penegak hukum. Proses ini disebut "sinkholing".

    Dalam 48 jam pertama, menurut data Europol dan FBI, informasi yang diperoleh berasal dari 2 juta alamat unik internet. Sebanyak 55 persen dari total komputer yang pernah terkena serangan jaringan Andromeda ini masih menjadi sasaran serangan tanpa diketahui para pemilik komputer yang menjadi korban di berbagai negara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.