Honduras Belum Punya Presiden, Situasi Mencekam

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang korban luka terbaring di rumah sakit Escuela di Tegucigalpa, Honduras, Rabu (15/2). REUTERS/Stringer

    Seorang korban luka terbaring di rumah sakit Escuela di Tegucigalpa, Honduras, Rabu (15/2). REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Honduras belum memiliki presiden bahkan seminggu setelah pemilu digelar menyusul tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh calon petahana.

    Kandidat oposisi Honduras, Salvador Nasralla__seorang bintang TV terkemuka__menuduh Presiden Juan Orlando Hernandez memanipulasi hasil pemilihan. Komisi pemilihan negara itu, Tribunal Supremo Electoral atau TSE, telah menunjukkan bukti kecurangan calon petahana. 

    Baca: 'Kota yang Hilang' Ditemukan di Tengah Hutan Honduras  

    Pada Minggu, 3 Desember 2017, TSE mulai meninjau surat suara yang menunjukkan penyimpangan. Penghitungan ulang akan dilakukan dengan menggunakan prosedur khusus yang menempatkan proses di bawah pengawasan partai politik, pengamat internasional dan media.

    "Kami merasa bahwa orang-orang Honduras, seperti yang kami katakan kemarin, pantas mendapat hasilnya, dan hasilnya tidak dapat dihentikan atau berada di tangan calon presiden atau partai manapun," kata David Matamoros, Ketua TSE, seperti yang dilansir CNN.

    Senin pagi, 4 Desember 2017, komisi pemilihan yang diawasi pemerintah menemukan bukti bahwa  Hernandez unggul atas Nasralla, 42,98 persen melawan 41,39 persen.

    Baca: Terkuak, ''Kota yang Hilang'' di Honduras

    Tapi TSE, menahan diri untuk tidak mengumumkan pemenang dan mengisyaratkan bahwa penghitungan yang lebih luas masih pelru dilakukan.

    Surat suara dari 1.000 wilayah pemungutan suara menunjukkan penyimpangan setelah sistem voting komisi pemilihan ditutup pada Rabu pekan lalu sementara penghitungannya terus berlanjut. Narsalla menuduh penutupan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memanipulasi pemungutan suara.

    Suasana di Honduras mencekam menyusul aksi protes berujung rusuh. Sedikitnya 11 orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam demonstrasi usai digelar pemilihan suara.

    Baca: Di Honduras, Merokok di Rumah Sendiri Bisa Didenda

    Jam malam diberlakukan di kota-kota besar Honduras untuk mengatasi kekacauan tersebut. Jam malam selama 10 hari diberlakukan mulai pukul 6 sore sampai jam 6 pagi setiap harinya. Hanya pekerja pengangkut kargo, petugas kesehatan darurat, pegawai pemerintah dan orang-orang yang terlibat dalam pemilihan dan partai pemilihan dibebaskan dari jam malam.

    Tidak jelas kapan komisi pemilihan akan siap untuk mengumumkan pemenang. Banyak pengamat dari luar, seperti Organisasi Negara-negara Amerika dan PBB telah meminta kedua kandidat untuk menunggu hasil akhir sebelum menyatakan kemenangan.

    Hernandez telah meminta pendukungnya untuk tetap tenang. Dia juga mengatakan akan menerima hasil pemilihan, terlepas dari hasilnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.