AS Mulai Khawatir Reformasi Arab Saudi Ganggu Kepentingannya

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin lembaga anti korupsi yang baru dibentuk. Kampanye antikorupsi inimerupakan bagian dari upaya konsolidasi Mohammed bin Salman, yang merupakan penasihat utama Raja Salman. AFP/FAYEZ NURELDINE

    Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin lembaga anti korupsi yang baru dibentuk. Kampanye antikorupsi inimerupakan bagian dari upaya konsolidasi Mohammed bin Salman, yang merupakan penasihat utama Raja Salman. AFP/FAYEZ NURELDINE

    TEMPO.CO, Washinton - Pejabat Amerika Serikat mulai menunjukan kekhawatiran atas langkah yang dilakukan baru-baru ini oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Kekhawatirn ini muncul karena kebijakan baru itu dianggap dapat merusak kepentingan Washington.

    Sumber dari Kementerian Luar Negeri AS, Selasa, 14 November 2017, mengatakan diplomat Amerika Serikat bersama pejabat dari Pentagon dan Central Intelligence Agency atau CIA menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah bertindak ceroboh tanpa pertimbangan yang memadai terhadap kemungkinan konsekuensi dari kebijakannya.

    Baca:  Presiden Lebanon Sambut Baik Kepulangan Hariri dari Arab Saudi

    Mohammed bin Salman, 32 tahun, yang juga dikenal dengan inisial namanya MBS, telah mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan cepat setelah dikukuhkan sebagai pewaris utama kerajaan oleh ayahnya, Raja Salman, pada Juni lalu.

    Baca: Prancis Tak Berikan Suaka untuk PM Lebanon

    Pada 4 November 2017, puluhan pejabat senior Arab Saudi ditangkap dan ditahan karena diduga terlibat praktek korupsi. ini termasuk 11 menteri kabinet dan beberapa pengusaha kerajaan yang paling berkuasa.

    Seperti dilansir Al Jazeera pada 15 November 2017, komentar pejabat Departemen Luar Negeri AS ke media New York Times kembali mencerminkan perbedaan pandangan dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Setelah penangkapan massal di Arab Saudi Trump berkata, "Saya sangat percaya diri dengan Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi. Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. Beberapa dari mereka yang ditangkap telah 'memerah susu' negara mereka selama bertahun-tahun . "

    MBS mulai dikenal luas setelah ditunjuk sebagai menteri Pertahanan pada Januari 2015. Langkahnya yang paling menonjol adalah meluncurkan Operation Decisive Storm, sebuah koalisi pimpinan Arab di Yaman untuk melawan kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar negara itu.

    Putra mahkota telah berjanji untuk merombak ekonomi Arab Saudi dengan mengubahnya dari ketergantungan yang besar pada minyak, menyingkirkan korupsi sistemik di kerajaan, dan memoderatkan masyarakat, yang telah lama dipengaruhi oleh kelompok religius garis keras.

    Dia juga telah mendorong kebijakan luar negeri Arab Saudi yang jauh lebih agresif untuk melawan pengaruh saingan regional yaitu Iran. Setelah mengambil alih pada Juni, MBS berjanji untuk "berperang" dengan Iran, yang dituduh berusaha "mengendalikan dunia Islam".

    AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.