Erdogan Tolak Islam Moderat di Arab Saudi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud di Jeddah, Arab Saudi, 23 Juli 2017. Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via REUTERS

    Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud di Jeddah, Arab Saudi, 23 Juli 2017. Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki Recep Tayyin Erdogan menolak konsep Islam moderat yang akan diterapkan di Arab Saudi. Menurut dia, Islam moderat ditemukan oleh negara-negara Barat dan digunakan untuk melemahkan ajaran asli agama tersebut. Pernyataan Erdogan mengacu pada reformasi Arab Saudi, selain juga mengecam diskriminasi orang-orang Muslim di Uni Eropa.

    Baca: Cuek Dikritik Barat, Erdogan: Biar Mereka Bicara ke Tangan Saya

    Bulan lalu, Putera Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, berjanji untuk mengembalikan Islam moderat ke kerajaan yang dianggap sebagai rumah agama Islam tersebut. Selama ini negara monarki terbesar di Teluk mengamalkan versi Islam Salafi atau Wahabi yang sering digambarkan sebagai ultrakonservatif dan dikelola melalui hukum syariah Islam.

    Menanggapi itu, Erdogan pada Jumat, 10 November 2017, di hadapan Dewan Penasihat Wanita Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mengecam sebuah interpretasi moderat terhadap Islam.

    Baca: Arab Saudi Akan Kembalikan Islam Menjadi Moderat

    "Istilah 'Islam moderat' sedang didengungkan lagi. Islam moderat milik Barat. Tidak ada Islam moderat,  Islam adalah satu. Tujuan penggunaan istilah tersebut adalah untuk melemahkan Islam, "kata Erdogan di Ankara, seperti yang dilansir Russia Today pada 10 November 2017.

    Selain mengkritisi keputusan Arab Saudi, Erdogan  juga mengecam Uni Eropa karena menyetujui serangkaian kebijakan yang mendiskriminasikan Muslim, termasuk pelarangan pemakaian burqa.

    Baca: Tokoh Lintas Agama Kampanye Islam Moderat ke Eropa  

    Reformasi Arab Saudi yang dikumandangkan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman merupakan bagian dari program visi tahun 2030. Visi itu mengubah secara sosial label Wahhabi dari Islam Sunni yang melarang pencampuran gender dalam konser musik dan bioskop. Dimulai pada musim panas tahun depan, wanita di Arab Saudi akan diizinkan menyetir.  Wanita juga diizinkan menghadiri acara olahraga karena monarki terus mendorong reformasi liberalisasi mulai tahun depan. 

    Bulan lalu Pangeran mengumumkan sebuah rencana untuk membangun sebuah kota seni senilai ratusan miliar dollar di perbatasan dengan Yordania dan Mesir. Kota mega baru ini akan didirikan dengan tujuan untuk mendiversifikasi ekonomi negara Arab dan mengurangi ketergantungannya pada minyak. Reformasi Riyadh telah disertai dengan upaya anti-korupsi yang besar, yang menyerukan pembersihan elit politik dan bisnis kerajaan, termasuk 11 pangeran.

    /


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.