Rabu, 22 Agustus 2018

Rusia Tuding NATO Memancing Perang dengan Strategi Perang Dingin

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • foto kombinasi saat Kapal Aurora disinari cahaya yang menggambarkan Revolusi Bolshevik Rusia tahun 1917 di St. Petersburg, Rusia, 4 November 2017. REUTERS/Anton Vaganov

    foto kombinasi saat Kapal Aurora disinari cahaya yang menggambarkan Revolusi Bolshevik Rusia tahun 1917 di St. Petersburg, Rusia, 4 November 2017. REUTERS/Anton Vaganov

    TEMPO.CO, Jakarta - Rusia menuding Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO berupaya memancing perang dengan strategi era Perang Dingin. Tudingan itu dikeluarkan setelah Menteri pertahanan aliansi NATO pimpinan Amerika Serikat pada minggu ini mengusulkan proposal untuk membentuk dua komando militer baru. Dan Rusia menjadi target dari strategi rencana perang itu. 

    Perintah pembentukan dua komando militer untuk memfasilitasi pengiriman pasukan dan senjata secara terbuka didiskusikan oleh pejabat NATO selama pertemuan puncak NATO selama 2 hari di Brussels, Belgia pekan ini.

    Baca: Rusia Deteksi NATO Kembangkan Senjata Nuklir di Perbatasan

    Dua komando baru yang diusulkan itu merupakn perluasan pertama struktur komando NATO sejak berakhirnya Perang Dingin lebih dari 25 tahun yang lalu. Ini adalah langkah mundur yang membawa provokasi berbahaya kepada Rusia.

    Alexander Grushko, pejabat Rusia yang menangani masalah NATO, mengatakan bahwa kini terbukti keputusan NATO tampaknya terinspirasi oleh strategi era Perang Dingin.

    "Jelas bahwa tugas konfrontasi dengan Rusia terletak pada inti dari usaha tersebut," kata Grushko, seperti yang dilansir Russia Today pada 10 November 2017.

    Baca: NATO Pantau Situasi Semenanjung Korea

    Adapun Grushko menambahkan bahwa dengan semakin berfokus pada pertahanan Eropa yang beranggotakan 29 negara akan mempercepat ketegangan dengan Rusia sampai pada titik di mana pecahnya perang merupakan risiko besar.

    Grushko juga mengkritik media Barat dalam memberitakan kebijakan NATO menghadapi Rusia.  Grushko mengungkap bahwa Reuters menyebut pos komando baru tersebut sebagai alat untuk memberikan efek jera terhadap Rusia. Sementara Radio Free Europe yang dikelola pemerintah Amerika mengatakan, ekspansi tersebut untuk melawan ancaman yang terus meningkat dari Rusia.

    Pencaplokan Krimea di Ukraina serta latihan militer Rusia di dekat perbatasan Eropa yang disebut sebagai Zapad 2017 telah dijadikan bahan pembenaran oleh media Barat untuk mendukung usaha NATO . Menurut Rusia, media Barat tidak lagi menjadi pelayan berita namun telah berubah menjadi agen propaganda keji Barat.

    Baca: NATO Usir Pesawat Rusia di Perairan Baltik  

    Bulan lalu, media kenamaan Jerman, Der Spiegel bahkan melaporkan sebuah dokumen rahasia NATO yang menunjukkan bahwa aliansi tersebut sedang mempersiapkan sebuah kemungkinan perang dengan Rusia.

    Dan, yang lebih mengerikan lagi adalah NATO telah memiliterisasi seluruh masyarakat Eropa dan infrastruktur sipil untuk mengakomodasi kegilaan perangnya yang menggelikan.

    Pada pertemuan puncak pekan ini di Brussels, pejabat NATO mengatakan pemerintah Eropa dan sektor swasta harus mengkoordinasikan kebijakan, infrastruktur, dan undang-undang untuk dapat memfasilitasi operasi militer dari Atlantik ke perbatasan Rusia.

    NATO dituding secara irasional ingin mengubah Eropa menjadi garnisun untuk perang dengan Rusia, sebuah perang yang sebagian besar warga negara Eropa tidak inginkan dan didasarkan pada alasan yang tidak kredibel, dianggap tidak hanya akan membuat dunia kembali ke era strategi Perang Dingin dan Russophobia, namun juga akan menghancurkan masa depan pembangunan demokrasi dan sosial Eropa dengan perang yang sama sekali tidak perlu dengan Rusia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.