Penembak Gereja Texas Pernah Dirawat di RSJ

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana lokasi terjadinya penembakan di First Baptist Church, Sutherland Springs, Texas, 5 November 2017. MAX MASSEY/ KSAT 12/via REUTERS

    Suasana lokasi terjadinya penembakan di First Baptist Church, Sutherland Springs, Texas, 5 November 2017. MAX MASSEY/ KSAT 12/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Texas -- Pelaku penembakan massal sebuah gereja di Texas, Devin Kelley, pernah melarikan diri dari sebuah rumah sakit jiwa pada 2012. Saat itu, dia sedang bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat dan tercatat mengancam atasannya.

    Ini terjadi setahun sebelum dia mulai membeli sejumlah senjata yang dibawanya pada saat melakukan penembakan massal terhadap jemaat First Baptist Church di Sutherland Springs, pada Ahad, 5 Nopember 2017. "Ini berdasarkan laporan polisi pada 2012," tulis NBC News, 7 Nopember 2017, waktu setempat.

    Baca: Pelaku Teror di Gereja di Texas Tewas Ditembak Warga

    Adanya insiden ini menimbulkan pertanyaan tidakkah seharusnya otoritas bisa mencegah Kelley dari membeli senjata jauh-jauh hari sebelum dia terlibat penembakan massal yang menyebabkan 26 orang tewas.

    Baca: Pelaku Teror di Gereja di Texas Pernah Jadi Guru Relawan Alkitab

    Sejumlah petugas kepolisian berjaga-jaga dilokasi terjadinya penembakan di First Baptist Church di Sutherland Springs, Texas, 5 November 2017. pelaku berpakaian serba hitam dan membawa senjata taktis saat melepas tembakan di First Baptist Church. (Nick Wagner/Austin American-Statesman via AP)

    Menurut laporan polisi tadi, petugas polisi menahan Kelley di sebuah terminal bus di daerah El Paso, Texas, pada 7 Juni 2012. Saat itu, dia baru saja melarikan diri dari Peak Behavioral Health Services, yang terletak sekitar 10 mil di New Mexico. Laporan soal ini pertama kali diperoleh oleh media afiliasi NBC yaitu KPRC.

    Kelley, yang saat itu berusia 21 tahun, dikirim ke fasilitas perawatan itu setelah dia dituduh menyerang istri dan melukai kepala anak tirinya.
    Polisi menerima laporan bahwa Kelley orang yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan lingkungan. Ini karena sebelumnya dia pernah tertangkap menyelundupkan senjata api ke dalam pangkalan angkatan udara Holloman, yang merupakan tempatnya bertugas.

    Menurut laporan itu, Kelley sempat mengancam mati atasannya di militer dan mencoba melakukannya. Menurut Xavier Alvarez, yang pernah bekerja di Peak Behavioral, kepada NBC News, Kelley memang pernah mengucapkan akan membalas kepada pimpinannya di militer.

    Masih menurut Alvarez, Kelley menggunakan komputer di fasilitas kesehatan itu untuk memesan senjata dan pakaian taktis dan meminta toko penjual agar mengirimkan pesanannya itu ke sebuah alamat kotak pos di San Antonio.

    Alvarez mengaku memiliki hubungan baik dengan sejumlah tentara yang dirawat di sayap militer fasilitas kesehatan itu. Tapi, menurut dia, Kelley memiliki kepribadian yang berbeda. "Anak ini.. sepertinya dia kosong. Saya tidak bisa meraih dia."

    Saat ditanya soal ini, manajemen Peak Behavioral menolak permintaan wawancara dengan alasan kerahasiaan pasien. Sedangkan Alvarez mengaku tidak bisa bicara mengenai hasil diagnosis mental dari Kelley,yang merupakan pelaku penembakan massal itu.

    NBC NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.