Selasa, 25 September 2018

Australia Sebut Korea Utara Putus Asa, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luas Negeri Australia Julie Bishop (kiri) ditemani dengan Menteri Pertahanan Australia Marise Payne saat menggelar pertemuan Australia-Indonesia 2+2 di Sydney, Australia, 21 Desember 2015. AP Photo

    Menteri Luas Negeri Australia Julie Bishop (kiri) ditemani dengan Menteri Pertahanan Australia Marise Payne saat menggelar pertemuan Australia-Indonesia 2+2 di Sydney, Australia, 21 Desember 2015. AP Photo

    TEMPO.CO, Sydney - Pemerintah Australia mengungkapkan telah menerima surat peringatan dari Korea Utara untuk menjauhi Amerika Serikat. Surat yang dikirim melalui dari kedutaan Korea Utara ke kedutaan besar Australia di Jakarta juga menyatakan Pyongyang memiliki senjata nuklir dan tidak takut akan ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    Menterian Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengkonfirmasi surat yang dikirim pada 28 September 2017 dari Komite Luar Negeri Korea Utara melalui kedutaannya di Jakarta.

    Baca:Korea Utara Ancam Tembakkan Nuklir ke Australia, Ini Pemicunya

    Surat itu menyebut Pyongyang sebagai salah satu kekuatan nuklir dan mengatakan upaya Amerika Serikat untuk menghancurkannya akan menjadi salah perhitungan besar dan dapat menyebabkan sebuah "bencana nuklir yang mengerikan ".
     

    "Jika Trump berpikir dia mampu menaklukkan Republik Demokratik Rakyat Korea Utara (DPRK) sebuah negara tenaga nuklir dengan ancaman perang nuklir, ini adalah perhitungan yang salah dan tidak bijaksana.

    "Trump mengancam untuk menghancurkan DPRK dan merupakan tindakan ekstrim yang mengancam seluruh dunia," demikian bunyi surat tersebut.

    Bishop mengatakan ini adalah pertama kalinya Australia menerima surat dari Korea Utara, yang biasanya berkomunikasi melalui kantor berita KCNA, seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu.

    "Saya pikir ini menunjukkan bahwa mereka (Korea Utara) merasa putus asa, merasa terisolasi, mencoba untuk mengecam Amerika, mencoba untuk membelah masyarakat internasional," kata Bishop, seperti yang dilansir ABC Online pada 20 Oktober 2017.

    Pada pekan lalu, Bishop dan menteri Pertahanan Australia, Marise Payne, mengunjungi Korea Selatan termasuk datang ke kawasan Panmunjom untuk menunjukkan dukungan. Rezim Korea Utara mengkritik keras kunjungan ini.

    Soal ini, Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan surat itu hanyalah tudingan tidak jelas dari Korea Utara mengenai betapa jahatnya Presiden AS, Donald Trump. "Padahal Korea Utara yang melanggar resolusi PBB. Saya harap rezim itu segera sadar dan segera menghentikan tindakan cerobohnya menebar ancaman keamanan ke mana-mana."

    Pada Sabtu, 14 Oktober 2017, Pyongyang, melalui KCNA, mengancam Australia karena membantu Amerika dalam menentang program senjata nuklirnya. Rezim Kim Jong Un memperingatkan jika Australia terus mengampanyekannya maka "tidak akan dapat menghindari bencana".

    Surat yang dikirim dari Keduaaan Besar Korea Utara di Jakarta itu tidak hanya dikirim ke Australia, namun juga ke beberapa negara yang terkait dengan program nuklirnya.

    Surat itu disampaikan setelah Donald Trump mengancam akan "menghancurkan secara total" Korea Utara dalam sebuah pidato pembukaan sidang umum PBB pada September. Australia salah satu negara yang menerima surat itu.

    ABC ONLINE|NEWS.COM.AU|TELEGRAPH|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.