Korea Utara Ancam Kirim Awan Nuklir ke Jepang

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Korea Utara berunjuk rasa, mengutuk Amerika Serikat di Pyongyang. theaustralian.com.au

    Warga Korea Utara berunjuk rasa, mengutuk Amerika Serikat di Pyongyang. theaustralian.com.au

    TEMPO.CO, Jakarta - Korea Utara mengancam akan mengirim awan nuklir ke Jepang setelah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meminta anggota PBB menekan Korea Utara untuk mengakhiri program pengembangan senjata nuklirnya. Abe menyampaikan ajakan itu di Majelis Umum PBB bulan lalu.

    Selain mengancam untuk mengirim awan nuklir, Korea Utara juga menyebut Abe seperti ayam tanpa kepala. Pyongyang menyebut Abe telah memprovokasi ketegangan di Semenanjung Korea.

    Baca: Ejek Tillerson, Trump Anggap Dialog dengan Korea Utara Sia-sia

    Melalui kantor berita resmi Korea Utara, KCNA,  Korea Utara  mengatakan Jepang melakukan aksi bunuh diri yang dapat menghancurkan Jepang dengan seruannya di Majelis Umum PBB. 

    “Tindakan Jepang meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea merupakan aksi bunuh diri yang akan membawa awan nuklir pada mereka. Tidak satu orang pun tahu kapan situasi akan menyebabkan perang nuklir, namun jika itu terjadi, Jepang akan dilahap api untuk sesaat. Ini sudah sangat jelas," ujar KCNA. 

    Baca:  Siap Perang, 4,7 Juta Warga Korea Utara Daftar Militer

    Korea Utara memastikan  Jepang akan menjadi korban pertama dari bencana nuklir dunia. Korea Utara telah meluncurkan 2 buah rudal melintasi langit jepang. Salah satunya bahkan mencapai ketinggian 480 mil dan menempuh jarak 2,300 mil hingga akhirnya jatuh di dekat kepulaun Guam. Korea Utara juga mengancam akan menenggelamkan Jepang dan membumihanguskan Amerika Serikat.

    NEW YORK POST l KISTIN SEPTIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.