Rabu, 26 September 2018

Raja Spanyol Tuding Pemimpin Catalonia Hama Demokrasi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Spanyol Felipe dan Ratu Letizia, bersama dengan dua anak perempuannya Putri Leonor dan Putri Sofia saat menuju lokasi sesi foto di di kebun Istana Marivent di Palma de Mallorca, Spanyol, 4 Agustus 2016. REUTERS/Enrique Calvo

    Raja Spanyol Felipe dan Ratu Letizia, bersama dengan dua anak perempuannya Putri Leonor dan Putri Sofia saat menuju lokasi sesi foto di di kebun Istana Marivent di Palma de Mallorca, Spanyol, 4 Agustus 2016. REUTERS/Enrique Calvo

    TEMPO.CO, Jakarta -Raja Spanyol, Felipe VI, menuding pemimpin Catalonia sebagai hama yang menggerogoti prinsip demokrasi dan memecah belah masyarakat.  

    "Saat ini masyarakat Catalonia retak dan dalam konflik. Mereka (pemimpin Catalonia) telah melanggar sistem peraturan yang disetujui secara hukum , menunjukkan ketidaksetiaan terhadap negara yang tidak dapat diterima,"  kata Raja Felipe VI seperti yang dilansir Reuters pada 4 Oktober 2017.

    Baca: 3 Alasan Utama Catalonia Merdeka dari Spanyol

    Langkah Raja Felife VI angkat bicara mengenai masalah Catalonia dianggap sebagai intervensi langka. Biasanya raja yang berusia 49 tahun ini memilih diam dalam urusan politik Spanyol. 

    Pidato Raja Felipe VI juga dianggap sebagai  pertanda seberapa dalam Spanyol terguncang oleh referendum Catalonia dan tindakan keras polisi yang melukai 900 orang.

    Pernyataan Raja Felipe VI pada Selasa, 3 Oktober 2017 tersebut dikeluarkan saat ratusan ribu warga berkumpul di jalan untuk memprotes aksi kekerasan yang dilakukan oleh polisi Spanyol saat referendum Catalonia berlangsung pada Minggu 1 Oktober 2017.

    Baca: Perkenalkan, Carles Puigdemont Tokoh Kunci Kemerdekaan Catalonia

    Kemarin, 2 Oktober, puluhan ribu orang Catalan berdemonstrasi di jalan-jalan di wilayah timur laut  memprotes  tindakan polisi yang mencoba mengganggu referendum  dengan menembakkan peluru karet dan menaiki kerumunan orang dengan pentungan.

    Aksi protes yang melibatkan lebih dari 700.000  orang di Barcelona juga mempengaruhi arus lalu lintas, transportasi umum dan sektor bisnis di kota. Selain di ibukota Barcelona, protes serupa juga disuarakan di seluruh negeri untuk mendesak intervensi Uni Eropa agar mengatasi krisis antara para pemimpin Catalonia dan Madrid.

    Partai pro-kemerdekaan yang mengendalikan pemerintah daerah mengadakan referendum dianggap Madrid menentang Mahkamah Konstitusi dan melanggar konstitusi 1978. Sementara  pemimpin Catalonia, Carles Puigdemont mengatakan hasil referendum valid dan harus dilaksanakan segera. 

    Baca: Ribuan Warga Spanyol Tolak Referendum Catalonia Merdeka

    Catalonia, wilayah terkaya Spanyol, memiliki bahasa dan budaya tersendiri dan gerakan politik untuk pemisahan diri yang telah disuarakan  dalam beberapa tahun terakhir.

    Referendum dan akibatnya telah membuat Spanyol terjerumus dalam krisis konstitusional terburuk dalam beberapa dasawarsa, dan merupakan ujian politik untuk Perdana Menteri Mariano Rajoy, seorang konservatif yang telah mengambil sikap keras terhadap isu tersebut.

    REUTERS|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.